Mengapa Membenci Agama Nabi Ibrahim Disebut Memperbodoh Diri? (Tafsir Al-Baqarah 130-132)
Dalam lintasan sejarah para Nabi, sosok Nabi Ibrahim AS menempati posisi yang sangat sentral. Beliau adalah Abul Anbiya (Bapak para Nabi) yang membawa risalah Tauhid murni. Namun, Al-Qur'an mencatat sebuah peringatan keras dalam Surah Al-Baqarah ayat 130-132 bagi mereka yang berpaling dari jalan ini.
Mengapa Allah menyebut orang yang membenci agama Ibrahim sebagai orang yang "memperbodoh dirinya sendiri"? Mari kita bedah tafsir dan kandungan maknanya.
1. Hakikat Memperbodoh Diri Sendiri (Safaha Nafsahu)
Allah SWT berfirman:
"Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri..." (QS. Al-Baqarah: 130)
Dalam kosa kata Al-Qur'an, Safaha Nafsahu berarti seseorang yang tidak menyadari hakikat dirinya sebagai makhluk ciptaan Allah atau sengaja meremehkan martabatnya sendiri.
Logikanya sederhana: Jika seseorang meninggalkan kebenaran yang nyata, menjauhi petunjuk yang terang, dan memilih kesesatan yang merugikan dunia-akhirat, bukankah itu puncak dari kebodohan? Seseorang yang menghina agama Ibrahim sebenarnya sedang menghina fitrah sucinya sendiri.
2. Asbabun Nuzul: Hidayah yang Terlewatkan
Menarik untuk mencermati latar belakang turunnya ayat 130. Dikisahkan oleh Ibnu Uyainah, seorang sahabat bernama Abdullah bin Sallam (mantan pendeta Yahudi yang masuk Islam) mengajak dua keponakannya, Salamah dan Muhajir, untuk memeluk Islam.
Beliau mengingatkan mereka tentang janji Allah dalam kitab Taurat mengenai kedatangan Nabi Ahmad (Muhammad) dari keturunan Ismail. Salamah menerima hidayah tersebut, namun Muhajir enggan dan memilih tetap dalam kekafirannya. Atas penolakan Muhajir inilah, Allah menurunkan ayat yang menyatakan bahwa orang yang membenci jalan Ibrahim hanyalah orang yang bodoh.
3. Ketundukan Mutlak Nabi Ibrahim (Aslim!)
Puncak kemuliaan Nabi Ibrahim adalah ketika Allah mengujinya dengan perintah untuk tunduk (Aslim). Tanpa ragu, beliau menjawab:
"Aslamtu lirabbil 'aalamin (Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam)." (Ayat 131)
Kata Islam di sini bermakna ketundukan hati yang total dan pemurnian ibadah hanya kepada Allah. Nabi Ibrahim membuktikannya dengan menghadapkan wajah dan hatinya kepada Pencipta langit dan bumi, menjauhi segala bentuk kemusyrikan (QS. Al-An’aam: 79).
4. Wasiat Terakhir: Jangan Mati Kecuali sebagai Muslim
Kasih sayang seorang Nabi kepada keturunannya tidak diukur dengan warisan harta, melainkan warisan akidah. Nabi Ibrahim dan cucunya, Nabi Yaqub AS, meninggalkan wasiat yang sama kepada anak-anak mereka:
"Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam." (Ayat 132)
Apa Pesan di Balik Wasiat Ini?
Pilihan Allah: Islam bukan sekadar pilihan manusia, tapi agama yang dipilih langsung oleh Allah untuk keselamatan hamba-Nya.
Istiqamah hingga Akhir: Perintah "jangan mati kecuali sebagai Muslim" adalah perintah untuk berpegang teguh pada Islam setiap saat. Karena maut bisa datang kapan saja, satu-satunya cara mati dalam keadaan Muslim adalah dengan terus hidup dalam ketaatan.
Pintu Harapan: Ayat ini sekaligus menjadi pengingat bagi mereka yang menyimpang bahwa pintu taubat masih terbuka lebar sebelum ajal menjemput.
5. Pesan untuk Kaum Yahudi dan Nasrani
Melalui ayat-ayat ini, Allah seolah bertanya kepada kaum Ahli Kitab: "Jika kalian mengaku mencintai Ibrahim dan Yaqub, mengapa kalian tidak mengikuti wasiat mereka untuk beriman kepada nabi penutup (Muhammad SAW)?" Mengikuti agama Ibrahim berarti mengikuti Islam yang dibawa Nabi Muhammad, karena inti ajarannya adalah satu: Tauhid yang murni.
Kesimpulan: Warisan yang Harus Dijaga
Surah Al-Baqarah ayat 130-132 mengajarkan kita bahwa memeluk Islam adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap akal dan diri kita sendiri. Menjadi pengikut Nabi Ibrahim berarti memiliki keberanian untuk tunduk total kepada Allah dan memiliki visi untuk menjaga iman keluarga hingga akhir hayat.
Sudahkah kita menjadikan wasiat Nabi Ibrahim ini sebagai panduan dalam mendidik keluarga kita hari ini? Mari kita perkuat ikatan iman kita agar kelak kembali kepada-Nya dalam keadaan berserah diri sepenuhnya.
Keyword: Tafsir Al-Baqarah 130-132, Agama Nabi Ibrahim, Wasiat Nabi Yaqub, Perintah Masuk Islam, Husnul Khatimah.
