Panduan Lengkap Melempar Jumrah: Sejarah, Tata Cara, Syarat dan Waktunya

Tata cara Melempar Jumrah, Syarat dan Waktunya

Melempar jumrah (Ramyu al-Jumrah) merupakan salah satu ritual wajib dalam ibadah haji yang penuh dengan makna simbolis. Di tempat ini, ribuan jamaah haji berkumpul di Mina untuk melontarkan batu-batu kerikil ke pilar-pilar jumrah.

Bukan sekadar melempar batu, ritual ini adalah simbol perlawanan manusia terhadap godaan setan. Sejarahnya merujuk pada keteguhan Nabi Ibrahim AS saat digoda oleh iblis agar mengabaikan perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Nabi Ibrahim kemudian melempari setan tersebut dengan batu sebagai bentuk penolakan. Inilah yang kemudian diabadikan dalam manasik haji umat Nabi Muhammad SAW.


Mengenal 3 Macam Jumrah

Dalam pelaksanaannya, terdapat tiga titik pilar jumrah yang harus dilempar secara berurutan:

  1. Jumrah Ula (Sughra): Jumrah pertama atau yang paling kecil, terletak paling dekat dengan Masjid Al-Khaif.

  2. Jumrah Wustha: Jumrah pertengahan yang terletak di antara Jumrah Ula dan Jumrah Aqabah.

  3. Jumrah Aqabah (Kubra): Jumrah terakhir yang berukuran paling besar.


Ketentuan Batu dan Ukurannya

Jumlah total batu yang dibutuhkan adalah 70 butir. Disarankan untuk melebihkan beberapa butir untuk berjaga-jaga jika ada batu yang hilang atau lemparannya meleset.

  • Rincian Penggunaan: 7 batu untuk hari Nahar (10 Dzulhijjah) dan 63 batu untuk tiga hari Tasyriq (21 batu per hari).

  • Ukuran Batu: Kerikil seukuran batu ketapel (sebesar kacang polong atau ruas jari). Hal ini berdasarkan hadis riwayat Jabir RA:

    "Sesungguhnya Nabi SAW mendatangi Jumrah di hari Nahar. Lalu beliau melempar jumrah dengan 7 kerikil sebesar batu ketapel, di mana dalam tiap batu beliau SAW bertakbir."

  • Jenis Material: Harus berupa batu (kerikil). Boleh menggunakan jenis batu seperti marmer atau batu ubin, namun tidak boleh menggunakan benda selain batu seperti kayu, tanah, atau logam.


Waktu Pelaksanaan Melempar Jumrah

Waktu melempar jumrah terbagi menjadi dua fase utama:

  1. Hari Nahar (10 Dzulhijjah): Hanya melempar Jumrah Aqabah saja. Waktu utamanya adalah setelah matahari terbit (waktu Dhuha) hingga terbenam matahari.

  2. Hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah): Melempar ketiga jumrah secara berurutan (Ula, Wustha, Aqabah). Waktunya dimulai setelah zawal (matahari tergelincir atau masuk waktu Dzuhur) hingga terbenam matahari.


Syarat Sah Melempar Jumrah

Agar ritual ini sah dan tidak terkena denda (dam), jamaah harus memperhatikan syarat berikut:

  • Melempar Satu per Satu: Tidak boleh melempar tujuh kerikil sekaligus. Jika dilakukan sekaligus, maka hanya dihitung satu lemparan.

  • Harus Berurutan: Dimulai dari Ula, lalu Wustha, dan terakhir Aqabah (kecuali pada tanggal 10 Dzulhijjah yang hanya Aqabah saja).

  • Yakin Masuk ke Lubang Marma: Batu harus masuk ke dalam area kolam/lubang pilar jumrah.


Tata Cara Melempar Jumrah Lengkap

Langkah 1: Persiapan di Muzdalifah

Pada malam tanggal 10 Dzulhijjah, saat mabit di Muzdalifah, jamaah mulai mengumpulkan batu kerikil. Setelah shalat Subuh, jamaah bergerak menuju Mina. Di perjalanan, jamaah disunnahkan berhenti di Masy’aril Haram (Bukit Quzah) untuk berdzikir dan berdoa hingga langit terang benderang.

Langkah 2: Melempar Jumrah Aqabah (10 Dzulhijjah)

  1. Setibanya di Mina, jamaah menuju pilar Jumrah Aqabah.

  2. Lempar sebanyak 7 kali. Setiap lemparan diiringi dengan takbir.

  3. Hentikan bacaan Talbiyah saat mulai melempar, karena ini adalah tanda dimulainya tahallul.

  4. Lafal Takbir: اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ (Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallahu wallahu akbar Allahu akbar walillahil hamdu).

Langkah 3: Melontar di Hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah)

  1. Setiap hari setelah waktu Dzuhur, jamaah menuju area jumrah.

  2. Lakukan pelemparan dengan urutan: Jumrah Ula (7 batu), Jumrah Wustha (7 batu), kemudian Jumrah Aqabah (7 batu).

  3. Setiap butir batu dilempar sambil membaca takbir.

  4. Setelah selesai melempar di hari ke-13, rangkaian wajib haji ini pun tuntas.


Kesimpulan

Melempar jumrah mengajarkan kita tentang ketegasan dalam mengusir godaan negatif dalam diri. Dengan mengikuti tata cara yang benar, insya Allah ibadah haji kita akan menjadi lebih sempurna dan bermakna.


Penulis: Admin Alfailmu.com Kategori: Fiqih Ibadah, Manasik Haji

Semoga informasi ini bermanfaat bagi Anda yang tengah mempersiapkan perjalanan suci. Wallahu A’lam Bish-shawab.


Apakah artikel ini membantu Anda? Jangan lupa bagikan kepada sesama calon jamaah haji agar mereka juga memahami tata cara melempar jumrah dengan benar!

Sumber:
Tgk. Erwin Syah, Terjemah Al-Mahalli, disunting.