Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 163: Keesaan Allah SWT dan Makna Tauhid
Surah Al-Baqarah ayat 163 merupakan salah satu ayat yang menjadi landasan utama dalam ajaran tauhid. Ayat ini menegaskan bahwa Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, sekaligus memperkenalkan dua sifat-Nya yang agung, yaitu Maha Pengasih (Ar-Rahman) dan Maha Penyayang (Ar-Rahim).
Melalui ayat ini, Allah SWT mengajak manusia meninggalkan segala bentuk kesyirikan dan kembali hanya beribadah kepada-Nya. Berikut tafsir, kosa kata, serta kandungan fiqih Surah Al-Baqarah ayat 163 berdasarkan penjelasan Tafsir Al-Munir karya Syekh Wahbah Az-Zuhaili.
Bacaan Surah Al-Baqarah Ayat 163 :
وَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ لَآاِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ ١٦٣
Artinya : “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 163)
Kosa Kata QS. Al-Baqarah Ayat 163
Beberapa kosa kata penting dalam ayat ini antara lain:
(وَاِلٰهُكُمْ): Tuhan kalian yang berhak disembah.
(اِلٰهٌ وَّاحِدٌ): Tuhan Yang Maha Esa, tidak memiliki tandingan baik dalam zat maupun sifat-sifat-Nya.
Tafsir dan Penjelasan QS. Al-Baqarah Ayat 163
Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah SWT menjelaskan keadaan orang-orang kafir yang mengingkari ayat-ayat-Nya, orang-orang yang menyembunyikan kebenaran, serta ancaman berupa laknat dan kekekalan mereka di dalam neraka.
Melalui ayat ini, Allah SWT kemudian menjelaskan akar penyebab kekafiran tersebut, yaitu kesyirikan.
Untuk mengobati penyakit syirik, Allah menegaskan keesaan-Nya dengan menunjukkan bahwa hanya Dia yang memiliki sifat ketuhanan (uluhiyah) secara sempurna. Seluruh rahmat, kebaikan, manfaat, dan pertolongan hanya berasal dari-Nya.
Allah SWT berfirman bahwa Tuhan yang benar-benar berhak disembah hanyalah Dia semata. Tidak ada satu pun makhluk yang dapat menyamai-Nya dalam kekuasaan, kasih sayang, maupun pengaturan seluruh alam semesta.
Karena itu, manusia dilarang mempersekutukan Allah dalam bentuk apa pun, baik dalam aspek uluhiyah maupun rububiyah.
Larangan Menyekutukan Allah dalam Uluhiyah dan Rububiyah
Syirik dalam uluhiyah adalah meyakini adanya makhluk yang memiliki hak menerima ibadah sebagaimana Allah, atau menganggap ada pihak lain yang turut memiliki kekuasaan sebagaimana kekuasaan-Nya.
Adapun syirik dalam rububiyah ialah meyakini bahwa selain Allah memiliki kekuasaan mutlak dalam menciptakan, mengatur alam semesta, atau menetapkan hukum halal dan haram.
Allah SWT berfirman:
“Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi) dan rahib-rahibnya (Nasrani) sebagai tuhan selain Allah.” (QS. At-Taubah: 31)
Ayat ini menunjukkan bahwa menaati selain Allah dalam perkara yang bertentangan dengan syariat dapat menjadi bentuk penyimpangan dalam rububiyah.
Makna Kalimat Tauhid
Firman Allah:
لَآاِلٰهَ اِلَّا هُوَ
mengandung dua unsur utama, yaitu penafian (nafi) dan penetapan (itsbat).
Kalimat tersebut menafikan seluruh sesembahan selain Allah, sekaligus menetapkan bahwa hanya Allah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
Dengan demikian, makna kalimat tauhid bukan sekadar "tidak ada Tuhan", melainkan tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah SWT.
Mengapa Allah Menyebut Ar-Rahman dan Ar-Rahim?
Dalam ayat ini Allah memilih menyebut dua nama-Nya:
Ar-Rahman (Maha Pengasih)
Ar-Rahim (Maha Penyayang)
Pemilihan dua nama ini bukan tanpa hikmah.
Allah mengingatkan orang-orang yang masih berada dalam kekafiran bahwa pintu rahmat-Nya tetap terbuka. Meskipun ancaman azab sangat berat bagi orang yang terus-menerus menyekutukan Allah, Dia tetap memberikan kesempatan kepada hamba-Nya untuk bertaubat.
Dengan demikian, ayat ini tidak hanya menegaskan keesaan Allah, tetapi juga menunjukkan luasnya kasih sayang-Nya kepada seluruh makhluk.
Isi Kandungan Fiqih QS. Al-Baqarah Ayat 163
Beberapa pelajaran fiqih yang dapat diambil dari ayat ini antara lain sebagai berikut.
1. Tauhid adalah Kewajiban Pertama dalam Islam
Setelah melarang manusia menyembunyikan kebenaran, Allah SWT menjelaskan bahwa kebenaran terbesar yang wajib disampaikan adalah tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam ibadah.
Seluruh ajaran Islam dibangun di atas fondasi tauhid.
2. Allah adalah Satu-Satunya Tuhan yang Berhak Disembah
Firman Allah:
وَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ
menegaskan bahwa hanya Allah yang memiliki sifat ketuhanan (uluhiyah).
Dia Maha Esa, tidak memiliki sekutu, tidak ada yang menyerupai-Nya dalam zat maupun sifat.
3. Nama Allah yang Paling Agung
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda:
اسم الله الأعظم في هاتين الآيتين: (وَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ لَآاِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ) و (الۤمّۤ، اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُۗ)
Artinya: "Nama Allah yang paling agung terdapat dalam dua ayat ini, yaitu: 'Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,' dan ayat, 'Alif Lam Mim. Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Mahahidup, Yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya.'"
Hadis ini menunjukkan kemuliaan ayat tauhid yang terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 163.
4. Kalimat Tauhid Mengandung Penafian dan Penetapan
Kalimat:
لَآاِلٰهَ اِلَّا هُوَ
mengandung dua unsur penting:
Penafian, yaitu menolak seluruh sesembahan selain Allah.
Penetapan, yaitu menetapkan bahwa hanya Allah yang berhak disembah.
Inilah inti dari akidah Islam.
5. Keutamaan Mengakhiri Hidup dengan Kalimat Tauhid
Rasulullah SAW bersabda:
من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة
Artinya: "Barang siapa yang ucapan terakhirnya adalah 'Laa ilaaha illallah', niscaya ia masuk surga."
Makna hadis ini adalah seseorang meninggal dalam keadaan memiliki keimanan yang benar kepada Allah SWT, bukan sekadar mengucapkannya di lisan tanpa keyakinan di dalam hati.
Surah Al-Baqarah ayat 163 merupakan salah satu ayat terpenting dalam Al-Qur'an yang menegaskan inti ajaran Islam, yaitu tauhid. Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, tidak memiliki sekutu dalam zat, sifat, maupun perbuatan-Nya.
Selain menegaskan keesaan-Nya, Allah juga memperkenalkan diri-Nya sebagai Ar-Rahman dan Ar-Rahim, menunjukkan bahwa kasih sayang-Nya selalu mendahului kemurkaan-Nya. Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya menjaga kemurnian tauhid, menjauhi segala bentuk kesyirikan, serta senantiasa berharap kepada rahmat Allah SWT.
