Hadis tentang Malu dalam Belajar: Jangan Sampai Rasa Malu Menghalangi Ilmu
Islam mengajarkan adab malu sebagai akhlak yang mulia. Namun, rasa malu tidak boleh menjadi alasan untuk menjauhi ilmu, enggan bertanya, atau meninggalkan kewajiban agama. Dalam urusan belajar, terutama ilmu agama, seseorang perlu memiliki keberanian untuk mencari penjelasan tentang hal yang belum dipahaminya.
Mujahid bin Jubair rahimahullah berkata:
لَا يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ مُسْتَحْيٍ وَلَا مُتَكَبِّرٌ
Artinya: “Orang yang terlalu malu dan orang yang sombong tidak akan memperoleh ilmu.”
Ucapan ini menjelaskan dua sikap yang dapat menghalangi seseorang dari ilmu. Pertama, malu yang membuat seseorang takut bertanya meskipun ia tidak mengetahui suatu perkara. Kedua, sombong, yaitu merasa diri sudah cukup pandai sehingga tidak mau menerima penjelasan dari orang lain.
Wanita Anshar dan Semangat Mendalami Agama
Siti Aisyah radhiyallahu ‘anha memuji para wanita Anshar dengan perkataan:
نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ الْأَنْصَارِ لَمْ يَمْنَعْهُنَّ الْحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِي الدِّينِ
Artinya: “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Rasa malu tidak menghalangi mereka untuk mendalami ilmu agama.”
Pujian ini menunjukkan bahwa mereka tetap menjaga kesopanan, tetapi tidak membiarkan rasa malu menghalangi mereka bertanya tentang persoalan agama. Sikap tersebut penting diteladani oleh setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan.
Hadis Ummu Sulaim tentang Bertanya dalam Ilmu
Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha pernah datang kepada Rasulullah ﷺ dan bertanya mengenai kewajiban bersuci bagi perempuan. Ia berkata bahwa Allah tidak malu untuk menjelaskan kebenaran. Rasulullah ﷺ kemudian menjawab bahwa seorang perempuan wajib mandi apabila menemukan tanda keluarnya mani. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
Pertanyaan Ummu Sulaim menunjukkan keberanian yang baik dalam mencari ilmu. Ia tidak bertanya untuk hal yang sia-sia, melainkan untuk memahami hukum bersuci dan menjalankan syariat dengan benar. Rasulullah ﷺ pun menjawab pertanyaan tersebut dengan jelas dan penuh bimbingan.
Dari hadis ini dapat dipahami bahwa seseorang yang tidur lalu bermimpi, tetapi tidak menemukan tanda keluarnya mani ketika bangun, tidak wajib mandi besar. Adapun jika menemukan tanda tersebut, maka ia wajib bersuci dengan mandi janabah.
Malu yang Terpuji dan Malu yang Tercela
Malu yang terpuji adalah rasa malu yang menjaga seseorang dari perkataan buruk, perbuatan dosa, dan sikap tidak sopan. Sementara itu, malu yang membuat seseorang meninggalkan kewajiban, tidak mau belajar, atau enggan mencari kebenaran termasuk malu yang tercela.
Begitu pula dengan kesombongan. Orang yang sombong sering kali sulit menerima nasihat dan merasa tidak perlu belajar. Padahal, ilmu membutuhkan hati yang rendah, terbuka, serta bersedia bertanya kepada orang yang lebih mengetahui.
Pelajaran dari Hadis
Hadis dan atsar ini mengandung beberapa pelajaran penting:
Rasa malu tidak boleh menghalangi seseorang mencari ilmu dan kebenaran.
Bertanya tentang perkara agama, termasuk masalah bersuci, merupakan bagian dari usaha menjalankan syariat dengan benar.
Menuntut ilmu memerlukan keberanian, kerendahan hati, dan kesungguhan.
Kesombongan dapat menjadi penghalang besar untuk memahami ilmu.
Seorang Muslim perlu membedakan antara malu yang menjaga akhlak dan malu yang menghalangi kebaikan.
Dengan demikian, Islam mendidik umatnya agar tetap santun dalam bertanya, tetapi tidak diam ketika membutuhkan ilmu. Sebab, ilmu adalah jalan untuk mengenal Allah, memperbaiki ibadah, dan menjalani kehidupan sesuai tuntunan agama.
