Isi Kandungan Fiqih Surah Al-Baqarah ayat 204-207

Fiqih Surah Al-Baqarah ayat 204-207

Alfailmu.com - Para ulama mazhab Maliki berkata: Ayat ini menunjukkan bahwa kita diperintahkan supaya berhati-hati dalam urusan-urusan agama dan dunia bahwa para saksi dan hakim harus diperiksa keadaannya.

Juga bahwa hakim tidak boleh mengambil putusan berdasarkan lahiriah keadaan manusia serta keimanan dan kebaikannya yang terlihat mata, melainkan ia harus memeriksa batinnya lebih dulu.

Sebab Allah Ta ala menjelaskan berbagai keadaan manusia dan menyatakan bahwa di antara mereka ada yang memperlihatkan perkataan yang bagus sementara hatinya meniatkan sesuatu yang keji.

Adapun sabda Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh jamaah dari Ummu Salamah “Maka aku mengambil putuson sesuai dengan keterangan yang kudengar” adalah terjadi pada awal masa Islam, yang mana pada saat itu kondisi lahiriah cukup untuk menjadi bukti karena keadaan masyarakat masih amat bersih.

Adapun setelah kerusakan merajalela pemeriksaan keadaan batin menjadi suatu keniscayaan.

Yang benar sebagaimana kata al-Qurthubi, kondisi lahiriah bisa menjadi patokan bagi hakim dalam mengambil putusan kecuali jika terbukti ketidakbenaran keadaan lahiriah itu. Dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa Umar ibnul Khaththab r.a. pernah berkata:

“Wahai manusia sekalian, wahyu telah berhenti turun, dan sekarang kami mengambil putusan sesuai dengan amal kalian yang tampak oleh kami. Barangsiapa yang menampilkan dirinya baik di hadapan kami, maka kami akan memberinya keamanan dan mendekatkannya kepada kami, sementara kami tidak peduli dengan isi hatinya Allah-lah yang akan membuat perhitungan atas isi hatinya. Dan barangsiapa menampakkan dirinya buruk di hadapan kami, kami tidak akan memberinya keamanan dan tidak mempercayainya meskipun ia berkata bahwa isi hatinya baik.”

Ayat ini menunjukkan bahwa kelompok orang-orang munafik itu biasanya mengada- kan kerusakan dari dalam. Mereka tidak bertakwa dan tidak takut kepada Allah, maka pantaslah siksa neraka fahanam baginya, dan itu adalah seburuk-buruknya tempat.

Ayat ini juga menunjukkan bahwa orang yang mengikhlaskan amalnya karenaAllah dan orang yang berjihad di jalan Allah mendapatkan keridaan dan rahmat Allah serta memperoleh surga keabadian. Allah Ta’ala berfirman:

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; sehingga me- reka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah de- ngan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangon yang agung.” (QS. at- Thubah: 111)

Kelompok pertama ada dalam setiap umat. Adakalanya seseorang mengelabui satu atau beberapa individu, tapi adakalanya pula memperdaya umat secara keseluruhan sehingga menjerumuskan umat tersebut ke jurang keburukan dan azab.

Golongan seperti ini kadang mengandalkan sumpah-sumpah palsu. Ia bersumpah dengan nama Allah bahwa isi hatinya sama dengan apa yang ia katakan atau klaim. Sama dengan bersumpah kalau seseorang berkata begini: “Allah tahu atau bersaksi bahwa aku menyukai ini”.

Para ulama berkata: Kalimat ini lebih kuat daripada- sumpah. Sebagian fuqaha berpendapat bahwa barangsiapa mengucapkannya secara dusta maka ia terhitung murtad sebab ia menisbat- kan ketidaktahuan kepada Allah Ta’ala.

Terlepas dari hal ini, sekurang-kurangnya kalimat tersebut menunjukkan tiadanya perhatian akan agama, meskipun orang itu tidak bermaksud menisbatkan ketidaktahuan kepada Allah Ta’ala.

Jadi, itu adalah ucapan yang hanya keluar dari mulut orang-orang munafik yang “Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu dirinya sendiri tanpa mereka sadari.” (QS. Al-Baqarah: 9)

Ungkapan Al-Qur’an yang ringkas “وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّشْرِيْ نَفْسَهُ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ” menunjukkan sebuah kenyataan yang pasti, yaitu bahwa adanya golongan orang-orang yang ikhlas di tengah masyarakat merupakan rahmat yang menyeluruh bagi semua manusia, bukan ter- batas pada masyarakat itu semata.

Sebab seringkali manusia mendapat manfaat dari amal orang-orang yang mengadakan perbaikan se- belum mereka, di mana hasil perbaikan mereka itu baru terlihat setelah zaman mereka berlalu.

Orang yang mencurahkan dirinya demi kemanfaatan manusia karena mengharap ke- ridaan Allah Ta’ala tidak boleh bertindak sembrono dan menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan.

Mereka harus bertindak bijaksana, mesti memperhitungkan segala sesuatunya secara matang sebab maksud dari pembelian ini “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin..,” (QS. At-Taubah: 111) bukanlah penghinaan ataupun penistaan diri, melainkan maksudnya adalah menolak kejahatan dan mengerjakan kebaikan yang umum, sebagai bentuk belas kasihan kepada sesama manusia dan demi kemaslahatan umum.

Meskipun ayat “Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras” turun sehubungan dengan al-Akhnas.

Hal tersebut tidak membuat ayat ini berlaku khusus bagi dirinya saja, melainkan ia berlaku bagi semua orang yang memiliki sifat dan ciri yang sepertinya.

Alasannya karena al-‘ibrah li-‘umuumil-lafzhi laa li-khushuushis-sabab (yang menjadi patokan adalah keumuman lafal, bukan ke- khususan sebab).

Sa’id al-Maqburi berkata: Dalam sebagian kitab suci (yang diturunkan sebelum zaman Islam) ada ungkapan begini:

“Sebagian manusia punya lidah yang lebih manis daripada madu tapi hatinya lebih pahit ketimbang getah pohon gaharu. Mereka mengelabui manusia dengan mengenakan kulit domba yang halus. Mereka membeli dunia dengan agama. Allah Ta’ala berfirman: ‘Kalian berani-beraninya lancang kepada-Ku dan lupa diri akan Aku? Demi keagungan-Ku, pasti akan Ku-kirimkan kepada mereka cobaan yang membuat orang yang santun di antara mereka kebingungan’.”

Mendengar itu Muhammad bin Ka’b al-Qurazhi berkata, “Hal ini pun terdapat di dalam Kitabullah (Al-Qur’an).” Sa’id bertanya, “Dalam ayat yang mana?” Muhammad berkata, “Dalam firman Allah, Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu.”

Sa’id berkata, “Aku tahu ayat ini turun tentang siapa.” Muhammad bin Ka’b berkata, “Memang benar ayat ini turun sehubungan dengan orang itu, tapi kemudian ia berlaku untuk semua manusia.” Ibnu Katsir berkata: Perkataan Ibnu Ka’b al-Qurazhi ini bagus dan benar. (Abdul Hayyie al Kattani, dkk, Terjemah Tafsir Al-Munir 1)