Isi Kandungan Fiqih Surah Al-Baqarah ayat 208-212

Fiqih Surah Al-Baqarah ayat 208-212

Islam adalah satu kesatuan yang tak dapat dibagi-bagi, Barangsiapa beriman kepadanya, maka ia wajib menerimanya secara keseluruhan, tidak memilih bagian yang disukainya saja dan meninggalkan bagian yang tak disukainya atau menggabungkannya dengan agama lain,

Sebab Allah Ta’ala memerintahkan kita mengikuti semua ajaran-Nya dan menjalankan seluruh kewajiban-Nya, menghormati segala aturan-Nya, yang menghalalkan maupun yang mengharamkan.

Hal itu semua adalah bukti keimanan yang benar kepada-Nya. Apa lagi syariat Islam menghapus syariat-syariat samawi sebelumnya jika syariat-syariat itu bertentangan dengannya.

Memilih selain jalan ini terhitung sebagai mengikuti langkah-langkah dan bujuk rayu serta tipu daya setan.

Ayat “فَاِنۡ زَلَـلۡتُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡکُمُ الۡبَيِّنٰتُ” menunjukkan bahwa hukuman orang yang tahu tentang dosa lebih besar daripada hukuman orang yang tidak tahu tentangnya, dan orang yang belum mendapat seruan/dakwah kepada Islam tidak terhitung kafir gara-gara meninggalkan syariat.

Ayat “هَلۡ يَنۡظُرُوۡنَ اِلَّاۤ اَنۡ يَّاۡتِيَهُمُ اللّٰهُ” menuniuk- kan tempat kembalinya para penenang Islam atau para pendurhaka adalah kebinasaan dan azab, dan itu adalah sesuatu yang pasti dan tak terelakkan.

Setiap manusia yang berakal memperkirakan datangnya akibat ini, dan inilah pula yang dikaakan Al-Quian, di mana Allah Ta’ala menyatakan:

Tiada yang mereka nanti-nantikan kecuali kedaangan Allah Ta’ala dengan memperlihatlan suatu perbuatan terhadap sebagian makhluk-Nya yang bertujuan untuk memberi balasan dan putusan terhadap mereka. 

Sebagaimana Allah mengadakan suatu perbuatanyangdisebut-Nya “turun” dan istawaa, Allah mengadakan pula sebuah perbuatan yang disebut-Nya “datang”.

Perbuatan-perbuatan Allah terwujud tanpa alat maupun alasan. Mahasuci Allah, Sangat banyak bukti-bukti yang mengajak manusia agar mengikuti kebenaran dan Islam. 

Oleh karena itu, Bani Israil disodori pertanyaan yang bernada kecaman: “Berapa banyak sudah mereka menyaksikan mukjizat-mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Musa a.s, seperti: pembelahan laut, naungan awan, tongkat tangan, dan sebagainya?” 

Hal tersebut sebagaimana dikatakan Mujahid, Hasan al-Bashri, dan lain-lain.

Sebagian ulama lain berkata: Maksud ayat tersebut adalah “Berapa banyak sudah mereka melihat ayat dan bukti yang menunjukkan kenabian Muhammad saw.?” Tiada halangannya menggabungkan kedua penafsiran ini, seperti yang saya lakukan.

Kalau mereka mengganti isi kitab-kitab mereka dan mengingkari kenabian Muhammad Saw. Demikian pula halnya setiap orang yang mengganti nikmat Allah dengan keingkaran, maka bagi mereka siksa yang berat.

Adapun kaum materialis yang kafir; yang terpesona dengan dunia, yaitu para pemimpin Quraisy dan orang-orangyang seperti mereka, yang mana mereka membeda-bedakan manu- sia atas dasar kekayaannya.

Serta mereka juga mencemooh kaum mukminin yang miskin, dan barometer mereka adalah materi belaka, serta mereka berpaling dari akhirat gara-gara mengutamakan dunia, maka sesungguhnya mereka itu manusia yang berpandangan pendek.

Sebab Allah menjadikan apa yang ada di permukaan bumi ini sebagai hiasan dengan tujuan untuk menguji siapa di antara makhluk-Nya yang paling baik amalnya, di samping karena mereka tidak mempercayai selain dunia.

Adapun orang-orang beriman, yang berpegang teguh kepada hukum-hukum syariat, tidak terpukau dengan keindahan dunia, dan kelak mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang kafir sebab mereka di surga.

Sedangkan orang-orang kafir di neraka dan mereka akan menerima balasan atas cemooh mereka terhadap orang-orang beriman. Allah Ta’ala berfirman:

Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman yang menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan melepas memandang. Apakah orang-orangkafir itu diberi balasan (hukuman) terhadap apa yang telah mereka perbuat.” (QS. al-Muthaffifiin: 34-36)

Sayyidina Ali karamallahu wajhah meriwayatkan bahwa Nabi Saw pernah bersabda:

من استذل مؤمنا أو مؤمنة أو حقره لفقره وقلة ذات يده شهره الله يوم القيامة ثم فضحه ومن بهت مؤمنا أو مؤمنة أو قال فيه ما ليس فيه أقامه الله تعالى عااى تال من نار  يوم القيامة حتى يخرج مما قال فيه وإن عظم المؤمن أعظم عند الله وأكرم عليه من ملك مقرب وليس شيء أحب إلى الله من مؤمن تائب أو مؤمنة تائبة. وإن الرجل المؤمن يعرف فى السماء كما يعرف الرجل أهله وولده

Artinya: “Barangsiapa merendahkan seorang mukmin/ah atau menghinanya karena kemiskinannya, niscaya Allah akan membuka dan menyiarkan aibnya pada hari Kiamat. Dan barangsiapa memfitnah seorang mukmin/ah, niscaya Allah akan memberdirikannya di atas bukit api pada hari Kiamat hingga ia menarik kembali fitnahnya. Sesungguhnya diri seorang mukmin lebih agung dan mulia di sisi Allah daripada seorang malaikat. Tiada yang lebih dicintai Alhh daripada seorang mukmin/ah yang bertobat. Dan seorang mukmin dikenal di langit sebagaimana seseorang mengenali keluarga dan anaknya.

Namun, meski orang kafir layak menerima siksa di akhirat, sebagai bentuk keadilan dan rahmat-Nya Allah tidak menghalanginya memperoleh rezeki dan karunia-Nya yang dapat ia nikmati di dunia dan yang menjamin penghidupan dan kemuliaannya.

Allah memberinya rezeki dan memberi rezeki pula kepada setiap hewan di muka bumi. Allah juga memberi manusia anugerah yang banyak tanpa memperhitungkan keimanan dan ketakwaan, maupun kekafiran dan kejahatannya.

Atau, pemberian Alah Swt itu amat banyah tiada batasnya. Allah juga tidak memperhitungkan dalam memberi. Semua karunia-Nya tanpa perhitungan.

Adapun yang disertai perhitungan adalah balasan-Nya atas amal yang dikerjakan manusia. Allah Ta’ala berfirman:

Sebagai balasan dan pemberian yang cukup banyak dari Tuhanmu.” (QS. an-Nabaa: 36)

Oleh karena itu, rezeki di akhirat bagi orang beriman yang bertakwa lebih banyak daripada rezekinya di dunia, dan ketika itulah orang beriman berbeda dari orang kafir di mana rezeki orangberiman itu bertambah dan langgeng di akhirat.

Sementara orang kafir tidak mendapat rezeki di sana, balasannya tidak lain adalah siksa di neraka. Allah Ta’ala berfirman tentang orang-orang beriman:

Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan (pepohonan surga yang teduh) dan (di sekitar) mata air. Dan buah-buahan yang mereka sukai. (Katakan kepada mereka), ‘Makan dan minumlah dengan rasa nikmat sebagai balasan apa yang telah kamu keriakan’. Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-Marsalaat: 4l-44)

Sedangkan tentang orang-orang kafir Allah Ta’ala berfirman:

Maka pada hari ini di sini tiada seorang teman pun baginya. Dan tidak ada makanan baginya kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa.” (QS. al-Haaqqah: 35-37) 

(Abdul Hayyie al Kattani, dkk, Terjemah Tafsir Al-Munir 1)