Tafsir Surah al-Baqarah Ayat 213: Kebutuhan Kepada Para Nabi
Surah al-Baqarah Ayat 213- 214:
كَانَ النَّاسُ اُمَّةً وَّاحِدَةً ۗ فَبَعَثَ اللّٰهُ النَّبِيّٖنَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ ۖ وَاَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيْمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ فِيْهِ اِلَّا الَّذِيْنَ اُوْتُوْهُ مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَتْهُمُ الْبَيِّنٰتُ بَغْيًا ۢ بَيْنَهُمْ ۚ فَهَدَى اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ مِنَ الْحَقِّ بِاِذْنِهٖ ۗ وَاللّٰهُ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ (٢١٣)
Artinya: “Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka Kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Dan yang berselisih hanyalah orang-orang yang telah diberi (Kitab), setelah bukti-bukti yang nyata samapai kepada mereka sendiri, karena kedengkian diantara mereka sendiri. Maka dengan kehendak-Nya. Allah memberi Petuniuk kepada mereka yang beriman tentang kebenaran yang mereka perselisihkan. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki kejalan yang lurus.” (QS. al-Baqarah: 213)
Kosa Kata QS. al-Baqarah Ayat 213
(اُمَّةً) kata ummah disebutkan di dalam Al-Qur’an dengan beberapa makna:
1. Jamaah, sebuah kelompok yang memiliki ikatan yang sama. Misalnya, firman Allah Taala dalam surah al-A’raaf ayat 181: (وَمِمَّنْ خَلَقْنَآ اُمَّةٌ يَّهْدُوْنَ بِالْحَقِّ وَبِهٖ يَعْدِلُوْنَ) dan surah Ali Imran ayat 110 (كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ).
2. Millah yakni akidah dan pokok-pokok tasyri’. Misalnya, firman-Nya dalam surah al-Anbiyaa’ ayat 92 dan surah al-Mu’minuun ayat 52 (وَاِنَّ هٰذِهٖٓ اُمَّتُكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةً).
3. Zaman. Misalnya, firman-Nya dalam surah Hud ayat 8: (وَلَىِٕنْ اَخَّرْنَا عَنْهُمُ الْعَذَابَ اِلٰٓى اُمَّةٍ مَّعْدُوْدَةٍ) dan surah Yusuf ayat 45: (وَادَّكَرَ بَعْدَ اُمَّةٍ).
4. Imam. Misalnya, surah an-Nahl ayat 120: (إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةً) yang artinya: Ibrahim adalah orang yang memiliki banyak sisi kebaikan.
Dan yang dimaksud dengan kata ummah disini, menurut banyak ahli tafsir, adalah millah. Artinya, semua nabi dan rasul membawa satu agama yang sama. Sedangkan beberapa ulama lainnya berkata bahwa ummah dalam ayat ini bermakna jamaah.
(مُبَشِّرِيْنَ) memberi berita gembira berupa surga kepada orang-orang beriman. (وَمُنْذِرِيْنَ) memberi ancaman neraka bagi orang-orang kafir. (الْكِتٰبَ) yakni kitab-kitab.
(الْبَيِّنٰتُ) bukti-bukti nyata yang menunjukkan tauhid. (مِنْۢ بَعْدِ) kata ini berkaitan dengan ikhtalafa, dan ia beserta kata sesudahnya didahulukan atas istitsnaa’ dalam makna.
(بَغْيًا) karena dengki. (مِنَ الْحَقِّ) kata min berfungsi sebagai bayaaniyyah. (بِاِذْنِهٖ) dengan kehendak-Nya.
Hubungan Antar Ayat
Dalam ayat terdahulu Allah Ta’ala memerintahkan orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam Islam secara keseluruhannya dan mengambil Islam ini secara total, tanpa membagi-baginya atau mencampur-adukkannya dengan agama lain.
Sedangkan dalam dua ayat ini Allah menerangkan betapa butuhnya manusia kepada rasul, bahwa mengikuti petunjuk para rasul sangat penting bagi manusia, bahwa siapa pun yang beriman kepada dakwah para nabi terkadang mengalami cobaan dan kesusahan.
Oleh sebab itu ia harus bersabar sampai Allah memberikan jalan keluar atau pertolongan, dan bahwa kekukuhan orang-orang itu di atas kekafiran disebabkan karena cinta dunia.
Tafsir dan Penjelasan QS. Al-Baqarah ayat 213
Anak cucu Adam dulu berada dalam kondisi dimana mereka membutuhkan hidayah ilahi, maka Allah memberi mereka karunia dengan mengutus para rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan ke cahaya.
Tujuannya agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu, dan bersama sebagian dari rasul-rasul itu Allah menurunkan kitab yang menunjukkan manusia kepada kebenaran.
Kondisi seperti apa yang dialami manusia sebelum pengutusan para rasul dan nabi?
Jumhur berkata: Manusia dulunya merupakan umat hidayah yang memeluk agama yang satu, dengan akidah dan syariat yang sama, yaitu agama Islam.
Namun, kemudian mereka berselisih sehingga Allah mengutus nabi-nabi sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, Abu Dawud meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata:
“Masa antara Nuh dan Adam adalah sepuluh abad, semua manusia pada masa itu memeluk satu syariat yang benar (yaitu Islam), tapi kemudian mereka berselisih, sehingga Allah mengutus nabi-nabi sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.”
Makna ini sama dengan qiraa’at Abdullah bin Mas’ud: (كان الناس أمة واحدة فاختلفوا). Jumhur juga berargumen begini:
Nabi Adam a.s. adalah seorang nabi dan anak-anaknya memeluk agamanya serta memberi hidayah kepada orang lain sampai timbulnya kedengkian di antara dua putranya. (Peristiwa pembunuhan salah satunya terhadap saudaranya telah kita ketahui.)
Sementara itu sejumlah ulama lain (Ibnu Abbas, Atha’, dan Hasan al-Bashri) berpendapat bahwa manusia pada masa itu merupakan umat dhalaal (umat yang sesat) yang tidak mendapat hidayah dengan kebenaran dan dalam tindak tanduknya tidak berhenti pada batasan /aturan syariat.
Dalilnya: Kondisi manusia kala itu menuntut pengutusan para rasul, dan dengan begitu misi mereka terlihat masuk akal.
Tugas para rasul itu ialah menjadi penengah dalam perselisihan-perselisihan manusia yang timbul dari kerusakan akidah dan penghambaan kepada hawa nafsu yang sesat. Kalau tidak demikian, tentu pengutusan para rasul tidak ada artinya.
Sedangkan Abu Muslim al-Ashfahani dan Qadhi Abu Bakr al-Baqillani berkata: Makna ayat ini begini:
Manusia dulunya berada di ata sfitrah, melaksanakan apa yang ditunjukkan oleh akal dalam soal akidah dan amal, akan tetapi ketundukan manusia kepada akal mereka itu bukanlah berdasarkan petunjuk Tuhan, sehingga akhirnya timbul perselisihan.
Memang, seringkali prasangka menghalangi manusia untuk memahami maksud sesungguhnya dari akidah dan hukum-hukum.
Penyusun Tafsir al-Manaar memilih makna yang lain, yaitu bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial.
Artinya, Allah menciptakan manusia sebagai umat yang satu, saling terkait satu sama lain dalam penghidupan. Sulit bagi individu-individunya untuk hidup di dunia ini sampai ajal yang ditakdirkan Allah bagi mereka kecuali dengan cara hidup berkelompok dan saling bantu.
Tiap individu tak mungkin hidup mandiri tanpa membutuhkan individu lain. Jadi, potensi orang-orang lain mesti digabungkan ke potensi dirinya. Hal ini dikenal dengan istilah al-insaanu madaniyyun bith-thab’.
Dengan demikian, makna ayat ini adalah “Manusia diciptakan dengan memiliki kecenderungan untuk hidup berkelompok, dan itu mendorong timbulnya persaingan dan perselisihan. Karena itulah para rasul diutus guna menengahi pertikaian di antara manusia, membimbing ke kebenaran dan kebaikan, serta menjelaskan kebatilan dan kesesatan”.
Jumlah nabi adalah 124.000 orang, yang berstatus rasul di antara mereka berjumlah 313 orang, dan yang namanya disebutkan di dalam Al-Qur’an berjumlah 18 orang.
Rasul yang pertama kali diutus adalah Adam, menurut hadis Abu Dzar. Menurut pendapat lain, rasul yang pertama adalah Nuh, berdasarkan hadis syafaat yang di dalamnya disebutkan bahwa manusia pada hari Kiamat berkata kepadanya,”Engkaulah rasul pertama.” Menurut pendapat ketiga, rasul pertama adalah Idris.
Selanjutnya Allah Ta’ala menerangkan bahwa Dia menurunkan kitab bersama para nabi. Kata al-kitaab (satu kitab) adalah isimjins, dan ia bermakna al-kutub (kitab-kitab).
Sedangkan menurut ath-Thabari, huruf alif dan lam dalam kata alkitaab adalah lil-’ahdi; yakni mengacu kepada sebuah kitab yang tertentu, yaitu Taurat.
Kitab itu berfungsi sebagai sumber syariat dan hukum untuk mendamaikan perselisihan di antara manusia, menunjukkan manusia kepada akidah yang benar, perilaku yang baik, dan amal saleh, serta memperingatkan mereka terhadap akibat kejahatan dan kerusakan, dan menjauhkan mereka dari hawa nafsu dan penakwilan-penakwilan sesat.
Jadi, kitab itu selalu benar. Hal ini sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh ayat yang lain, yaitu “menuturkan dengan benar”:
“Inilah kitab Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar.” (QS. al-Jaatsiyah: 29)
dan ayat petunjuk dan pemberian berita gembira di dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin” (QS. al-Israa’: 9)
Jadi, setiap kitab samawi adalah benar dan merupakan kata putus dalam urusan-urusan dunia dan agama.
Allah menggunakan kata al-kitaab (dalam bentuk tunggal) untuk menyebut kitab-kitab para nabi yang jumlahnya banyak itu. Tujuannya adalah untuk mengisyaratkan bahwa kitab-kitab itu intinya sama, berisi syariat yang sama dalam hal ushuul (pokok-pokok agama).
Selanjutnya Allah Ta’ala menyebutkan bahwa sebagian Ahli Kitab menjadikan kitab mereka sebagai sumber perselisihan karena dorongan rasa dengki dan benci kepada kebenaran.
Allah Swt berfirman: Para pemimpin dan pemuka agama telah berselisih tentang Kitab yang diturunkan Allah sebagai kebenaran, setelah datang kepada mereka bukti-bukti yang terang yang menunjukkan bahwa Kitab itu tidak memicu perselisihan, bahwa ia bertujuan untuk membahagiakan manusia, bukan untuk menyengsarakan maupun memecah belah mereka.
Perselisihan yang timbul dari para ulama pemegang urusan agama dan penerus dakwah para rasul, yang menuntut penerapan isi Kitab itu, tidak lain karena dorongan rasa dengki dan benci dari mereka.
Dan tindakan itu terhitung sebagai pelanggaran terhadap aturan-aturan syariat yang ditegakkan Allah sebagai batasan bagi manusia.
Namun, kejahatan yang dilakukan para pemimpin ini terhadap diri mereka dan terhadap manusia itu tidak menodai fakta bahwa Kitab itu merupakan petunjuk kepada kebenaran. Jadi, aibnya bukan terletak pada Kitab itu, melainkan pada orang-orang yang menjaga/menjalankan Kitab itu.
Hanya saja iman yang benar; disertai niat yang bersih, akan menunjukkan kepada kebenaran dan mencegah perselisihan. Orang-orang berimanlah yang akan mendapat petunjuk kepada kebenaran tentang hal yangdiperselisihkan manusia.
Merekalah yang akan mencapai apa yang diridai Tuhan, berkat taufik dan karunia-Nya, dan Allah selalu member petunjuk ke jalan yang lurus.
Adapun orang-orang yang menakwilkan agama semaunya sendiri, mereka berada dalam kesesatan, kerusakan, dan keburukan, dan mereka akan menerima siksa yang pedih di sisi Allah, sebagaimana difirmankan-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi (terpecah) dalam golongan-golongan, sedikit pun bukan tanggung jawabmu (Muhammad) atas mereka. Sesungguhnya urusan mereka (terserah) kepadaAllah, kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (QS. al-An’aam:159)
(Abdul Hayyie al Kattani, dkk, Terjemah Tafsir Al-Munir 1)
