Isi Kandungan Fiqih Surat Al-Baqarah Ayat 168-171: Makanan Halal, Larangan Mengikuti Setan dan Bahaya Taklid Buta

Makanan Halal, Larangan Mengikuti Setan dan Bahaya Taklid Buta

Surat Al-Baqarah ayat 168-171 memuat sejumlah prinsip penting dalam kehidupan seorang muslim. Ayat-ayat ini tidak hanya membahas makanan yang halal dan baik, tetapi juga mengingatkan manusia agar tidak mengikuti tipu daya setan, menjauhi taklid buta, serta membangun keyakinan agama di atas ilmu dan dalil. 

Seluruh ajaran tersebut menunjukkan bahwa Islam menghendaki umatnya menjalani kehidupan yang bersih, sehat, dan berlandaskan petunjuk Allah SWT.

Perintah Mengonsumsi Makanan yang Halal dan Baik

Allah SWT memerintahkan seluruh manusia agar memakan makanan yang halal sekaligus thayyib, yaitu makanan yang baik, bermanfaat, tidak membahayakan tubuh maupun akal, serta diperoleh melalui cara yang dibenarkan syariat. Hal ini menunjukkan bahwa kehalalan makanan tidak hanya dilihat dari jenisnya, tetapi juga dari cara mendapatkannya.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menjelaskan betapa besarnya pengaruh makanan halal terhadap diterimanya amal dan doa seseorang.

يا سَعدُ أطِبْ مَطعَمَكَ تَكُنْ مُستَجابَ الدَّعوَةِ، وَالَّذِي نَفسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنَّ العَبدَ لَيَقذِفُ اللُّقمَةَ الحَرَامَ فِي جَوفِهِ مَا يُتَقَبَّلُ مِنهُ عَمَلٌ أَربَعِينَ يَومًا، وَأَيُّمَا عَبدٍ نَبَتَ لَحمُهُ مِنَ السُّحتِ وَالرِّبَا فَالنَّارُ أَولَى بِهِ

Transliterasi : Yā Sa'du, aṭib maṭ'amaka takun mustajābad-da'wah. Walladzī nafsu Muḥammadin biyadih, innal-'abda layaqdziful-luqmatal-ḥarāma fī jaufihī mā yutaqabbalu minhu 'amalun arba'īna yauman. Wa ayyumā 'abdin nabata laḥmuhu minas-suḥti war-ribā fan-nāru awlā bih.

Artinya: "Wahai Sa'd, pilihlah makanan yang baik, niscaya engkau menjadi orang yang doanya dikabulkan. Demi Allah yang menggenggam jiwaku, apabila seseorang memasukkan sesuap makanan haram ke dalam perutnya, amalnya tidak akan diterima selama empat puluh hari. Dan siapa saja yang dagingnya tumbuh dari harta haram dan riba, maka neraka lebih pantas baginya." (HR. At-Thabrani)

Hadis ini menjadi pengingat bahwa makanan halal merupakan salah satu sebab penting diterimanya amal dan doa. Karena itu, seorang muslim hendaknya menghindari harta yang diperoleh dengan cara batil, termasuk mengambil hak orang lain atau memperoleh penghasilan melalui jalan yang diharamkan.

Larangan Mengikuti Langkah-Langkah Setan

Setelah memerintahkan manusia memakan makanan yang halal, Allah memperingatkan agar tidak mengikuti langkah-langkah setan. Larangan ini mencakup seluruh bentuk kemaksiatan, penyimpangan akidah, serta kebiasaan Jahiliah yang mengharamkan sesuatu tanpa dasar wahyu.

Dalam hadis qudsi yang diriwayatkan Imam Muslim disebutkan:

يقول الله تعالى: إِنَّ كُلَّ مَالٍ مَنَحتُهُ عِبَادِي فَهُوَ لَهُم حَلَالٌ، وَإِنِّي خَلَقتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ، فَجَاءَتهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجتَالَتهُم عَن دِينِهِم وَحَرَّمَت عَلَيهِم مَا أَحلَلتُ لَهُم

Transliterasi : Yaqūlullāhu Ta'ālā: Inna kulla mālin manaḥtuhu 'ibādī fahuwa lahum ḥalāl. Wa innī khalaqtu 'ibādī ḥunafā', fajā'athumusy-syayāṭīnu fajtālathum 'an dīnihim wa ḥarramat 'alaihim mā aḥlaltu lahum.

Artinya: "Allah Ta'ala berfirman: Semua harta yang Aku berikan kepada hamba-hamba-Ku adalah halal bagi mereka. Aku menciptakan mereka dalam keadaan lurus, kemudian setan datang menyesatkan mereka dari agama mereka serta mengharamkan apa yang telah Aku halalkan bagi mereka." (HR. Muslim)

Setan selalu berusaha menggiring manusia sedikit demi sedikit menuju penyimpangan. Karena itulah Al-Qur'an berkali-kali mengingatkan agar manusia memperlakukannya sebagai musuh.

Allah SWT berfirman:

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ

Transliterasi : Asy-syaiṭānu ya'idukumul-faqra wa ya'murukum bil-faḥsyā'.

Artinya: "Setan menjanjikan kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji." (QS. Al-Baqarah: 268)

Allah SWT juga berfirman:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Transliterasi : Innasy-syaiṭāna lakum 'aduwwun fattakhidzūhu 'aduwwā. Innamā yad'ū ḥizbahū liyakūnū min aṣḥābis-sa'īr.

Artinya: "Sungguh setan adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuh. Sesungguhnya ia hanya mengajak pengikutnya agar menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (QS. Fathir: 6)

Ayat-ayat tersebut mengajarkan bahwa seorang muslim wajib berjihad melawan hawa nafsu, tidak mudah mengikuti bisikan setan, dan selalu mengukur setiap perbuatan dengan tuntunan syariat.

Islam Melarang Taklid Buta

Bagian akhir ayat ini juga mengandung pelajaran penting tentang larangan bertaklid secara membabi buta. Orang-orang musyrik dan sebagian Ahli Kitab menolak kebenaran hanya karena mereka lebih memilih mengikuti tradisi nenek moyang daripada menerima petunjuk Allah.

Para ulama menjelaskan bahwa taklid adalah menerima suatu pendapat tanpa mengetahui dalilnya, sedangkan ittiba' berarti mengikuti pendapat seseorang karena mengetahui dasar dan argumentasinya.

Bagi orang awam yang belum mampu menggali hukum dari Al-Qur'an dan As-Sunnah, syariat memerintahkan untuk bertanya kepada ulama yang terpercaya. Allah SWT berfirman:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Transliterasi : Fas'alū ahladz-dzikri in kuntum lā ta'lamūn.

Artinya: "Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui." (QS. An-Nahl: 43)

Adapun dalam persoalan akidah, para ulama sepakat bahwa setiap muslim wajib membangun keyakinannya berdasarkan ilmu dan dalil, bukan sekadar mengikuti kebiasaan atau tradisi. Sebab Allah telah mencela kaum yang menolak kebenaran hanya karena berpegang teguh pada warisan nenek moyang mereka.

Penutup

Isi kandungan fiqih Surat Al-Baqarah ayat 168-171 memberikan pedoman yang sangat lengkap bagi kehidupan seorang muslim. Allah memerintahkan agar manusia mengonsumsi makanan yang halal dan baik, menjauhi harta yang haram, serta menyadari bahwa makanan yang dikonsumsi berpengaruh terhadap diterimanya amal dan doa.

Ayat-ayat ini juga mengingatkan bahwa setan adalah musuh yang selalu berusaha menyesatkan manusia melalui berbagai cara, termasuk menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. Di samping itu, Islam melarang taklid buta dalam urusan agama dan mendorong setiap muslim untuk membangun keyakinan berdasarkan ilmu, dalil, dan bimbingan para ulama.

Dengan menjalankan prinsip-prinsip tersebut, seorang mukmin dapat menjaga kemurnian akidah, memperbaiki ibadah, serta menjalani kehidupan yang lebih lurus sesuai petunjuk Al-Qur'an dan As-Sunnah.