Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 116-118: Kebohongan Ahli Kitab dan Musyrikin
Surah al-Baqarah Ayat 116-118:
وَقَالُوا۟ ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ وَلَدًا ۗ سُبْحَٰنَهُۥ ۖ بَل لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۖ كُلٌّ لَّهُۥ قَٰنِتُونَ. (116) بَدِيعُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۖ وَإِذَا قَضَىٰٓ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ. (117) وَقَالَ ٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ لَوْلَا يُكَلِّمُنَا ٱللَّهُ أَوْ تَأْتِينَآ ءَايَةٌ ۗ كَذَٰلِكَ قَالَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِم مِّثْلَ قَوْلِهِمْ ۘ تَشَٰبَهَتْ قُلُوبُهُمْ ۗ قَدْ بَيَّنَّا ٱلْءَايَٰتِ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ. (118)
Artinya:
116. Mereka (orang-orang kafir) berkata: ‘Allah mempunyai anak’. Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk: kepada-Nya.
117. Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: ‘Jadilah’. Lalu jadilah ia.
118. Dari orang-orang yang tidak mengetahui berkata: ‘Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?’ Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin. (QS. al-Baqarah: 116-ll8)
Kosa Kata QS. Al-Baqarah ayat 116-118
(سُبْحَٰنَهُۥ) susunan lni berarti menyucikan Allah dari apa yang mereka sifatkan, sekaligus menyatakan keheranan terhadap apa yang dikatakan orang-orang yang tidak tahu itu. (قَٰنِتُونَ) tunduk. Al-Qunuut artinya ketundukan.
(بَدِيعُ) pencipta, Al-Ibdaaˋ artinya pengadaan sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. (قَضَىٰٓ) menghendaki. (أَمْرًا) yakni menciptakan sesuatu.
(لَوْلَا) mengapa tidak. Al-Aayah artinya hujjah dan bukti. At-Tasyaabuh artinya keserupaan. Al-Yaqiin artinya ilmu yang pasti yang didukung dalil dan bukti.
Hubungan dengan ayat sebelumnya dan Asbabun Nuzul QS. Al-Baqarah 116 dan 118
Ayat-ayat sebelumnya menunjukkan klalm kaum Yahudi bahwa surga itu dikhususkan bagi mereka, sedangkan dalam Al-Baqarah 116 ini mereka mengklaim bahwa Uzair adalah putra Allah, sementara kaum Nasrani mengklaim bahwa AI-Masih adalah putra Allah.
Sementara kaum musyrikin mengklaim bahwa para malaikat adalah anak-anak perempuan Allah. Maka Allah mendustakan mereka semua dengan dalil yang meyakinkan.
Ayat 116 Surat Al-Baqarah ini turun sehubungan dengan kaum Yahudi yang berkata: “Uzair adalah anak Allah”, kaum Nasrani penduduk Najran yang berkata: “Al-Masih adalah anak Allah” serta kaum musyrikin bangsa Arab yang berkata: “Para malaikat adalah anak-anak perempuan Allah”.
Adapun asbabun nuzul ayat 118 adalah peristiwa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir ath-Thabari dari Ibnu Abbas, katanya: Rafi’ bin Khuzaimah pernah berkata kepada Rasulullah”
“Jika kau benar-benar rasul yang diutus Allah sebagaimana yang kau katakan, katakan kepada Allah supaya Dia berbicara dengan kami sehingga kami mendengar perkataan-Nya.”
Maka Allah menurunkan ayat ini sehubungan dengan kejadian itu:
“Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata...” (QS. al-Baqarah: 118)
Imam Al-Qurthubi berkata: (لَوْلَا يُكَلِّمُنَا ٱللَّهُ) artinya: “Mengapa Allah tidak langsung berbicara kepada kami tentang kenabianmu, wahai Muhammad?” sedangkan Imam Ibnu Katsir berkata: Makna ini adalah lahiriah ayat ini.
Tafsir dan Penjelasan QS. Al-Baqarah ayat 116-118
Kaum Yahudi berkata: “Uzair adalah anak Allah”, kaum Nasrani berkata: “Al-Masih adalah anak allah”, dan kaum musyrikin berkata: “Para malaikat adalah anak-anak perempuan Allah”.
Tak ada bedanya antara munculnya perkataan ini dari mereka semua atau dari sebagian saja, sebab anggota-anggota sebuah umat punya perasaan solider dalam segala hal yang mereka kerjakan dan katakan. Mahasuci Allah dari apa yang mereka klaim!
Allah tidak membutuhkan bantuan. Segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi adalah milik-Nya. Semua tunduk kepada kekuasaan dan kehendak-Nya. Dialah yang menciptakan langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya.
Allah lah pemilik segala sesuatu di alam ini. Apabila Allah Swt menghendaki sesuatu, Dia langsung mengadakannya dengan lebih cepat daripada jarak waktu antara dua huruf (كُن) tanpa ada kemungkinan batal.
Pengadaan dan penciptaan termasuk sebagian dari rahasia-rahasia uluhiyah (ketuhanan). Allah menyatakannya dengan ungkapan (كُن فَيَكُونُ) supaya lebih mudah dipahami akal manusia.
Apabila Allah memilih sebagian makhluk-Nya untuk diberi tugas kenabian dan kerasulan (misalnya para rasul dan para malaikat), ia tidak melampaui derajat makhluk. Semua tetap berstatus sebagai hamba Allah:
“Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.” (QS. Maryam: 93)
Jadi, Tuhan Yang menciptakan dan menguasai segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, Yang segala sesuatu di alam ini tunduk kepada perintah-Nya, Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan Yang mampu menciptakan secara kilat... akankah Dia membutuhkan anak dan bapak?!
Ayat ini dikuatkan dengan firman Allah Ta’ala tentang kaum musyrikin bangsa Arab:
“Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: ‘Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah’. Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.” (QS. al-An’aam: 24)
“Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan (nya) dengan Kami: ‘Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?” (QS. al-Furqaan: 21)
“Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka.” (QS. al-Muddatsir: 52)
Masih banyak lagi ayat-ayat lain yang menunjukkan kekafiran, kesombongan, dan pembangkangan orang-orang musyrik bangsa Arab, serta permintaan mereka tentang sesuatu yang tidak mereka butuhkan, yang tidak lain merupakan sikap tngkar dan menentang
Misalnya yang diucapkan Ahli Kitab (kaum Yahudi dan Nasrani) sebelum mereka. Allah Ta’ala berfirman:
“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: ‘Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat: Allah dengan terang’.” (QS. Al-Baqarah: 55)
Adapun orang-orang musyrik yang tidak mengetahui, karena mereka tidak punya kitab suci, dan mereka pun bukan pengikut seorang nabi yang menjelaskan kepada mereka apa yang layak bagi ketuhanan, berkata:
“Mengapa Allah tidak berbicara langsung dengan kami bahwa kau adalah benar-benar rasul-Nya? Atau mengapa Dia tidak mengutus seorang malaikat supaya memberitahukan hal itu kepada kami sebagaimana Dia mengutus malaikat kepadamu? Atau mengapa tidak kau beri kami bukti yang membenarkan pengakuanmu sebagai nabi?”
Tujuan mereka dengan permintaan-permintaan ini tidak lain adalah bersikap takabur, sombong, membangkang, meremehkan ayat-ayat yang terang dan mengingkari Al-Qur’an.
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini, yang dimaksudkan untuk menyusahkan, telah diucapkan umat-umat terdahulu sebelum mereka, sebagaimana telah kami sebutkan di atas dalam ayat-ayat yang menguatkan ayat ini.
Ahli Kitab di masa silam mengucapkan perkataan seperti yang dikatakan kaum musyrikin. Hati dan jiwa mereka serupa. Hati kaum musyrikin bangsa Arab menyerupai hati umat-umat sebelum mereka: sama-sama buta, keras, suka melawan dan ingkar.
Lidah adalah juru bicara hati. Apa yang terbetik dalam hati diungkapkan oleh lidah. Kebenaran hanya satu, dan pelanggaran kebenaran adalah kesesatan, dan kesesatan juga hanya satu meskipun bermacam-macam jalannya dan berbeda-beda caranya.
Dan dampak-dampaknya serupa, hingga seakan-akan mereka telah saling berpesan akan hal itu di antara mereka. Allah Ta’ala berfirman:
“Apakah mereka saling betpesan tentang apa yangdikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kawn yang melampaui batas.” (QS. adz-Dzaariyaat: 53)
Allah Swt menjelaskan ayat-ayat dan menerangkan bukti-bukti yang menunjukkan kebenaran para rasul dengan penjelasan yang paling baik dan paling sempurna, yang tidak menyisakan celah keraguan bagi orang-orang yang mencari kebenaran dengan dalil dan bukti.
Sementara mereka memiliki kesiapan untuk menerima ilmu dan keyakinan, dan mereka pun punya pemahaman yang benar lantaran mereka memiliki sikap adil, jiwa yang bersih, serta jauh dari pembangkangan. Seperti itulah keadaan para sahabat.
Mereka menanyai Nabi Muhammad Saw tentang perkara yang tidak mereka ketahui dalilnya, sebab mereka mendntai kebenaran dan selalu berpegang kepada bukti dan dalil.
Mereka adalah teladan orang-orang yang adil (yang tidak berpihak, tak berat sebelah), yang yakin, yang mengikuti para rasul dengan penuh keyakinan hati dan kesadaran akal, dan memahami apa yang dibawa para rasul itu dari Allah Ta’ala.
Adapun orang-orang yang hati dan telinganya telah dikunci-mati oleh Allah, serta penglihatannya ditutup oleh-Nya, Dia berfirman tentang mereka:
“Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidaklah akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih.” (QS. Yunus: 96-97)
(Abdul Hayyie al Kattani, dkk, Terjemah Tafsir Al-Munir 1)
