6 Adab Ihram Saat Memasuki Kota Makkah

Adab-Adab Ihram Saat Memasuki Makkah

Perjalanan manasik Haji atau Umrah dimulai sejak seorang hamba melantunkan niat ihram di titik Miqat. Namun, tahukah Anda bahwa saat kaki mulai melangkah memasuki tanah suci Makkah, terdapat adab-adab khusus yang diajarkan oleh Rasulullah SAW?

Menerapkan adab ini bukan sekadar menjalankan tradisi, melainkan upaya menyempurnakan ibadah agar hati lebih siap bersimpuh di depan Ka'bah. Berikut adalah 6 adab ihram yang perlu Anda perhatikan saat memasuki Kota Suci Makkah:


1. Memasuki Makkah Sebelum Wukuf di Arafah

Adab pertama yang sangat dianjurkan (afdhal) bagi jamaah haji adalah memasuki Kota Makkah sebelum waktu Wukuf di Arafah tiba. Hal ini merupakan sunnah yang populer dan dipraktikkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW serta para sahabat r.a. Dengan datang lebih awal, jamaah memiliki kesempatan untuk mempersiapkan fisik dan mental sebelum puncak ibadah haji.

2. Mandi Sunnah Sebelum Memasuki Kota Makkah

Sangat dianjurkan bagi orang yang berihram untuk mandi sebelum memasuki Makkah. Bagi jamaah yang datang dari arah Madinah, disunnahkan mandi di daerah Dzi Thiwa.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Nafi’ bahwa Ibnu Umar r.a. terbiasa bermalam di Dzi Thiwa, melaksanakan shalat Subuh, dan mandi sebelum memasuki Makkah. Beliau menjelaskan bahwa Rasulullah SAW melakukan hal yang sama. Jika Anda datang dari jalur lain, Imam Nawawi dalam Syarah Muhadzab menyebutkan bahwa Anda tetap dianjurkan mandi di tempat yang jaraknya setara dengan Dzi Thiwa dari arah kedatangan Anda.

3. Berdoa dengan Khusyuk Saat Melihat Baitullah (Ka’bah)

Momen melihat Ka’bah untuk pertama kalinya adalah saat-saat mustajab. Adabnya adalah mengangkat kedua tangan dan melantunkan doa:

اَللَّهُمَّ زِدْ هَذَا الْبَيْتَ تَشْرِيْفًا وَتَعْظِيْمًا وَتَكْرِيْمًا وَمَهَابَةً، وَزِدْ مَنْ شَرَّفَهُ وَعَظَّمَهُ مِمَّنْ حَجَّهُ أَوِ اعْتَمَرَهُ تَشْرِيْفًا وَتَكْرِيْمًا وَتَعْظِيْمًا وَبِرًّا

Artinya: “Ya Allah, tambahkanlah kepada Baitullah ini kemuliaan, keagungan, kehormatan, dan kewibawaan. Dan tambahkanlah pula kemuliaan, kehormatan, keagungan, dan kemegahan bagi orang yang memuliakan serta menghormatinya dari kalangan mereka yang berhaji atau berumrah.”

4. Memasuki Masjidil Haram Melalui Pintu Bani Syaibah

Salah satu sunnah yang dicontohkan Rasulullah SAW adalah memasuki Masjidil Haram melalui Pintu Bani Syaibah. Nabi SAW tetap mengutamakan pintu ini meskipun jalannya tidak searah dengan rute kedatangan beliau. Riwayat dari Imam Baihaqi menyebutkan bahwa tradisi masuk melalui pintu ini bahkan sudah dilakukan sejak masa Umrah Qadha.

5. Melaksanakan Thawaf Qudum sebagai Penghormatan

Setibanya di Masjidil Haram, adab utama bagi orang yang berihram adalah melaksanakan Thawaf Qudum. Thawaf ini berfungsi sebagai bentuk penghormatan (tahiyat) bagi Masjidil Haram.

Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa hal pertama yang dilakukan Nabi SAW saat tiba di Makkah adalah berwudhu kemudian melakukan Thawaf. Namun, ada pengecualian:

  • Jika sedang shalat fardhu atau iqamah dikumandangkan, dahulukanlah shalat berjamaah.

  • Thawaf Qudum dianjurkan bagi jamaah haji yang masuk Makkah sebelum Wukuf. Jika masuk setelah Wukuf, maka kesunnahan ini gugur.

6. Sunnah Ihram bagi Pengunjung Kota Makkah

Bagi Anda yang memasuki Makkah bukan untuk tujuan utama haji atau umrah (misalnya untuk urusan bisnis atau kunjungan keluarga), tetap disunnahkan untuk berihram. Hal ini serupa dengan kedudukan shalat Tahiyatul Masjid.

Namun, aturan ini dikecualikan bagi orang yang frekuensi masuk-keluarnya sangat tinggi, seperti pekerja logistik atau profesi lain yang mengharuskannya bolak-balik ke Makkah, agar tidak memberatkan secara teknis.


Kesimpulan

Memasuki Kota Makkah dengan menjaga adab-adab di atas akan memberikan getaran spiritual yang berbeda. Dengan mengikuti jejak Rasulullah SAW, kita berharap perjalanan ibadah ini menjadi perjalanan yang mabrur dan penuh berkah.


Penulis: Admin Alfailmu.com

Kategori: Manasik Haji & Umrah, Fiqih Ibadah

Semoga Allah memudahkan setiap hamba-Nya untuk berkunjung ke Baitullah dengan adab yang sempurna. Wallahua’lam bis-Shawab. Ust. H. Nailul Huda & Ust. M. Habibi, Terjemah Al-Mahalli, disunting.