-->

Hukum Menelan Air Ludah Saat Berpuasa, Batalkah?

 Puasa tidak batal  sebab menela ludah yang masih suci murni, di. telan   langsung  dari   sumbernya

-yaitu seluruh  daerah mulut-, sekalipun setelah terlebih dahulu dikumpulkan    di   dalam   mulut

-demikian menurut yang lebih shahih-, dan sekalipun pengum pulannya dilakukan  setelah di rangsang dengan mengunyah semacam kemenyan Mushtaka.

Hukum Menelan Air Ludah Saat Berpuasa, Batalkah?
Hukum Menelan Air Ludah Saat Berpuasa, Batalkah? (Ilustrasi - Pixabay.com/Clker-Free-Vector-Images)

Jikalau  menelan  ludah  yang ter• kumpul sendiri, maka secara pasti adalah tidak membahayakan  puasanya.

Tidak termasuk  'yang suci, yai• tu ludah mutanajjis dengan sema• cam darah gusi, makanya kalau ditelan puasanya menjadi batal, sekalipun   ludah   tampak   jernih dan secara muthlaq (pada  umum nya) tidak ada bekas campuran tersebut, karena dengan adanya larangan  menelan  mutanajjis itu maka berstatus sebagai benda tampak  dari lain dirinya sendiri.

Guru kita berkata : Jelaslah ada• nya kemakluman bagi orang yan8 mengalami penyakit pendarahan gusi, sekira tidak mungkin  dapa memisahkan  antara ludah dengan darah;  Sebagian para Ulama be'

kata :   Bila orang yang terkena penyakit tersebut menelannya serta  tahu  hal  itu  terjadi tapi ti• dak  dapat menyingkirinya,  maka puasanya tetap shah.

Tidak  termasuk ludah yang murni yaitu yang  telah tercampuri cair• an suci lainnya; Makanya  puasa menjadi batal jikalau  menelan  lu• dah yang telah berobah sifatnya sebab  tercampuri semacam  warna merah daun  Tanbal  sekalipun  su• lit  menghilangkannya, atau  ter• campuri  naftal   benang   yang   ia pintal memakai  mulutnya.

Tidak   termasuk ludah  yang  <lite- lan  langsung  dari  tempat sumber nya,  yaitu yang  telah keluar  dari daerah   mulut -bukari yang  masih tetap berada  pada lidahnya ,  seka lipun   hanya  keluar  ke daerah  bi• bir  luar   lalu  dijilat   kembali   dan · ditelan.

Atau bilamana ia membasahi be• nang   atau  siwak   dengan   ludah atau  air lalu  dimasukkan ke  da• lam  mulutnya,  an  ada basah-ba• sah yang terlepas dari benang atau siwak  tersebut   lalu   ditelannya maka  puasanya  batal; Lain hal• nya  jika  tiada basah-basah  yang terlepas  dari padanya,  karena ha• nya sedikit atau telah diperas atau itu benang  kering, maka menelan ludah  di sini tidak membahaya-

kan puasa;  Sebagaimana  pula me. nelan   air   bekas   berkumur  yang ada   di   dalam  mulut,   sekalipun memungkinkan melepihnya, kare na  sulitnya menjaga agar jangan sampai   tertelan,   yang makanya orang   tidak  dibebani   menyeka kering mulut dari  air  bekas   berkumurnya.

Apabila  terdapat  sisa makanan di sela-sela   gusi   lalu  ikut   tertelan bersamaludah  sebagaimana biasa nya ia menelan ludahnya -bukan sengaja  menelannya-,  jika  tidak bisa memisahkan lalu melepihnya maka puasanya tidak menjadi batal, sekalipun  tidak cukil  gigi di malam hari serta mengetahui masih  terdapatselilit  makan yang di  siang harinya akan  ikut tertelan bersama ludah.

Karena  terkenanya kewajiban me misahkan selilit  dan   melepihnya     " itu  adalah jika   mampu melaku• kannya  di siang hari; Namun Sunnah  Muakkad  cukil gigi dilakukan setelah makan sahur.

Adapun   bila mampu  melepihnya atau bila sengaja menelannya,  ma ka  dengan  mantap dihukumi batal puasanya.           ·.

Pendapat   sebagian   para  Ulama bahwa   ''Wajib mencuci mulut dariapapun  yang termakan di malam hari"   adalah   ditolak  oleh   Guru kita

Puasa tidak batal karena terlanjur air  masuk ke  dalam   Jauf orang mandi  semacam junub,  misalnya mandi haidl  ataunifas, bila man• dinya dilakukan   tidak  dengan caramenyelam ke dalam  air.

Maka bila dalam melakukan man• di junub. membasuh dua  telinga lalu   ada air yang terlanjur masuk ke  dalam  Jauf salah satunya, maka puasanya tidak menjadi batal, sekalipun mungkin  juga  dengan memiringkan  kepala atau mandi dilakukan sebelum   terbit fajar;

Sebagaimanapula jika  air terlan• jur masuk ke rongga dalam  orang yang  Mubalaghah   (=berkesungguhan)   mencuci mulutnya yang terkena najis, karena justru hal itu wajib dilakukan.          

Lain halnya jika mandi  dilakukan dengan   menyelam  lalu  terlanjur air  masuk ke  dalam  rongga  teli• nga'atau hidung,  maka puasanya batal sekalipun  itu  dalam  mandi wajib, karena menyelam ini sendi ri  hukumnya di sini makruh;  sebagaimana air berkumur terlanjur masuk    ke   dalam   Jauf lantaran Mubalaghah,   sedang   ia  teringat bahwa    sedang   tengah  berpuasa dan   mengetahui  mubalaghah  di sini tidak menjadi perintah syara' Lain  halnyajika  tidak  mubalaghah dalam berkumur. 

Tidak termasuk arti “mandi semacam junub",  yaitu mandi sunnah dan mandi tabarrud  (=penyegar  badan),  maka keterlanjuran air masuk  ke  dalam jauf  di sini bisa membatalkan puasa, sekalipun tidak dilakukan secara menyelam.

0 Response To "Hukum Menelan Air Ludah Saat Berpuasa, Batalkah?"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel