-->

Pengertian Puasa Ramadhan, Melihat Hilal dan Kewajiban Menjalankannya

Menurut bahasa, kata ini mempu•nyai  arti ''menahan; Sedang  me•nurut Syara'  adalah menahan  diri dari  segala  yang membatalkan puasa dengan syarat-syarat seperti akan diterangkan.


Serdar_A

Ibadah  puasa  turun perintah ke• fardluannya pada  bulan  Sya'ban tahun 2  Hijriyah; Puasa  itu  sen• diri   adalah  termasuk   di antara kekhususan     ummat  Islam,.  dan merupakan suatu   ibadah yang mesti  diketahui   dari   dalil-dalil E agama.                 ·

Wajib   mengerjakan  puasa sebu• lan Ramadhan  -sebagai Ijma-, de• ngan  telah  berakhirnya  tgl. 30 Sya'ban, atau  dengan  adanya  se•orang adil -sekalipun adil mastur• yang  melihat Hilal (bulan  sabit tanggal 1) setelah matahari terbe• nam, sekalipundengan tertutup awan di langit,  bila ia  memper• saksikan  telah melihatnya itu di hadapan Qadli;       '

persaksian tersebut  memakai 'Sa ya  bersaksi  bahwa  sungguh  saya telah  melihathilal    atau  'Saya bersaksi  bahwa  sungguh  hilal te• lah   tampak;  Belum  cukup   de• ngan    Saya bersaksi   sesungguh• nya besok   adalah   bulan   Rama• dhan";

Persaksian   tersebut  tidak diteri• ma kecuali disaksikan  persaksian• nya  oleh  dua  orang  adil  lainnya

(jadi  dua  orang ini  menyaksikan bahwa   dia  ,bersaksi  bahwa   meli• hat hilal). Dan (wajib  puasa)  dengan  adanya persaksian    bahwa    melihat  hilal Ramadhan  oleh  ·     seorang  adil  di• hadapan  Qadli   lalu   sang   Qadli mengatakan  'Saya  menerima dan menguatkan  persaksian  tersebut? maka  tibalah kewajiban berpuasa atas   segenap   penduduk  daerah   + yanghilal tampak    dari  sana.

Seperti halnya kekuafan hukum ketetapan   Qadli   atas   persaksian di  hadapannya,  yaitu adanya  be• rita mutawatir bahwa   hilal  telah tampak, sekalipun datangnya dari orang  kafir  karena bisa diterima• nya   pengetahuan kafir mengenai hal-hal  yang dlaruriy (bukan ana• litis)  ;  dan juga adanya perkiraan bahwa telah  masuk   bulan Rama• dhan     berdasarkan   .tanda-tanda yang   jelas   yang   biasanya  tidak keliru, misalnya dengan melihat lampu-lampu  yang   digantung  di atas menara.

Orang  fasiq,  budak dan  orang wa• nita  yang  melihat sendiri   adanya hilal  Ramadhan,  wajib  mengerja• kan  puasa.

Demikian   pula    wajib   berpuasa bagi  orang  yang  mengi'tiqadkan benarnya pemberitaan  dari orang fasiq    dan    murahiq   (menjelang baligh)  bahwa  telah melihat hilal dengan  mata kepala  sendiri,   atau bahwa    hilal   telah   tampak   dari daerah   lain  yang bersatuan math• la'nya  (yaitu   dalam   garis  bujur yang sama).

Kewajiban yang berpangkal dari pemberitaan  orang  fasiq dan ka• wan-kawan  tersebut adalah  meli• puti hubungannya    dengan   awal Ramadhan at~upun akhir Rama- dhan,  demikian   menurut penda• pat yang lebih shahih.

Menurut pendapat yang mu'ta• mad,hendaklah -bahkan wajib• seseorang mempedomani tanda• tanda masuknya  bulan  Syawwal, jika memang meyakini  benarnya tanda-tanda tersebut, -demikian menurut fatwa Guru kita Ibnu Ziyad  dan  Ibnu  Hajar sebagaima• na pula pendapat segolongan Ula• ma Muhaqqiqin-.

Apabila   orang-orang telah  mela• kukan puasa -sekalipun berdasar kan ruyah seorang lelaki adil-, maka  mulai habis  puasanya  set~• lah 30 hari berpuasa, sekalipun mereka  tidak melihat hilal  tang• gal  1   Syawwal  serta  tiada awan di  langit,  karena  telah sempurna hitungan satu bulan berdasarkan hujjah  Syari'iyyah.

Apabila seseorang berpuasa Rama dhan berdasarkan ucapan orang kepercayaan,    kemudian    setelah 30 hari ternyata tidak terlihat hi• lal  sedang  cuaca bersih,  maka  ti• dak boleh mulai  berbuka dari puasa.

Apabila saksi ru'yah (ru'yah yaitu. melihat hilal)  mencabut persaksi• annya  setelah  orang mulai berpua sa,  maka  tidak diperbolehkan ber buka kembali.

Apabila  ru'yah telah terjadi pada suatu   daerah,   maka   akibat  hu• kumnya berlaku pula  untuk  dae• rah  lain  yang  berdekatan,  bukan yang berjauhan.

Anggapan jauh  ditetapkan ber- dasarkan  adanya perbedaan math la (garis bujur),   demikian menu• rut pendapat yang shah; Yang di• maksud  perbedaan mathla? ialah adanya  dua daerah  itu berjauhan, yang  sekira  hilal  dapat diru'yah dari daerah yang satu tetapi biasa nya  dari daerah yang satunya lagi tidak dapat, -demikian dikatakan dalam Al-Anwar.

Dalam  hal  ini  At-Tajut  Tabriziy berkata yang diakui   oleh  Ulama lain, bahwa tidak mungkin terjadi perbedaan  mathla   dalam   jarak yan~g kurang dari . 2.4 farsakh. 

As-Subkiy   memperingatkan dan diikuti   oleh  Ulama  lain.   bahwa

sesungguhnya dengan  ada' nya  ruyah  di daerah Timur  berarti pula ruyah  telah terjadi  di daerah  Barat   -bukan    sebaliknya-,   sebab waktu malam   datang  di.daerah Timur  sebelum  ke  daerah Barat.   Sesuai   dengan  pembicaraan  para Ulama,   adalah    bilamana  ruyah telah terjadi di daerah Timur, ma ka seluruh daerah  disebelah Barat nya terkena kewajiban melakukan sesuatu  dalam kaitannya  dengan ruyah tersebut,  sekalipun berlain an mathla'nya.

Hanya  sanya  kewajiban berpuasa itu mengenai setiap orang mukal• laf  -yaitu  yang  baligh  berakal  se• hat-  yang  mampu melakukannya, baik mampu secara riil (=kenyata an) maupun secara formil (secara huisum) 

Makanya kewajibannya tidak mengenai  anak  kecildan  orang juga orang yang  tidak kuat berpuasa karena telah lanjut usia atau       . sakit yang tak  bisa diharap sem-     : buh  kembali,  dan  orang yang tak kuat ini terkena  kewajiban membayar fidyah 1 mud per hari puasa; Juga tidak mengenai atas orang tengah  mengalami  haidl  atau  nifas, karena secara formil  dianggap sebagai  tidak kuat berpuasa.

0 Response To "Pengertian Puasa Ramadhan, Melihat Hilal dan Kewajiban Menjalankannya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel