Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

5 Keistimewaan Menjadi Umat Nabi Muhammad SAW

Alfailmu.com - Sebagai muslim, kita sepatutnya bersyukur menjadi Umat Nabi Muhammad ﷺ karena memiliki banyak keistimewaan dan kelebihan. Rasulullah sebagai 'kekasih Allah' itulah menjadi sebab bagi kita mendapatkan derajat sebagai umat pilihan.

5-keistimewaan-umat-nabi-muhammad

Banyak sekali keistimewaan Umat Rasulullah SAW sebagai umat akhir zaman, di antaranya ibadah yang sedikit dengan pahala yang berganda-ganda. Bayangkan, umat terdahulu ada yang shalat dan puasa selama setahun penuh. Namun, Umat Muhammad SAW hanya shalat sehari 5 waktu dan puasa satu bulan saja, tetapi dengan pahala yang sama dengan ibadah umat terdahulu atau bahkan lebih banyak.

Begitu juga pada ibadah-ibadah lain dalam agama Islam yang banyak mendapatkan bonus-bonus yang luar biasa. Menjadi umat yang paling pertama dibangkitkan dari kubur esok di hari kiamat serta menjadi umat pertama yang mendapatkan syafaat dari Rasulullah SAW dan pertama masuk ke surga. Bahkan saking hebat dan keistimewaannya Umat Muhammad SAW, Nabi Isa 'Alaihissalam pun pernah meminta agar dijadikan Umat Rasulullah SAW. 

5 Keistimewaan Menjadi Umat Nabi Muhammad ﷺ dari Umat-Umat Nabi Sebelumnya

Dari berbagai keistimewaan Umat Nabi Muhammad SAW yang disebutkan di atas, secara khusus Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani dalam kitabnya yang berjudul Syaraful Ummatil Muhammadiyah menyebutkan ada 13 keistimewaan Umat Nabi Muhammad SAW.

Pada kitab oleh Abuya Sayyid menyebutkan di antara kekhususan Umat Nabi Muhammad ialah diangkatnya isru, yaitu beban-beban berat yang pernah ditetapkan kepada umat-umat terdahulu, dalam Al-Qur'an Allah Subhanahu Wata'ala berfirman:

.... وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ .... 

Artinya: .... Dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka ... (QS. Al-A'raf: 157)

Namun, di sini dari 13 keistimewaan Umat Nabi Muhammad ﷺ tersebut, penulis hanya menyebutkan 5 saja dulu, dan akan kami sebutkan sisanya pada tulisan berikutnya, insyaallah. Langsung saja, ini 5 keistimewaan Umat Nabi Muhammad ﷺ dibandingkan dengan umat terdahulu.

1. Diangkatnya beban memotong kain yang terkena najis

Pertama, keistimewaan Umat Nabi Muhammad ﷺ adalah diangkatnya beban memotong kain yang terkena najis. Dulunya sebelum Islam datang, benda atau tempat yang terkena najis untuk menyucikannya mesti dengan dipotong bagian yang terkena najis tersebut, tidak ada cara lain.

Alhamdulillah, dengan keistimewaan yang diberikan kepada Umat Nabi Muhammad ﷺ yaitu boleh menyucikan najis dengan cara membasuh dengan air. Hingga kepada najis mughalladhah (najis berat) sekalipun tetap bisa disucikan tanpa harus memotong bagian kain yang terkena najis.

Iya, tentunya dengan cara 'disamak', yaitu dengan membasuh bagian tempat atau kain yang terkena najis sebanyak 7 kali dengan  air, salah satunya dengan air yang bercampur dengan tanah.

2. Dihapusnya larangan makan bersama dengan perempuan berhaid

Keistimewaan kedua ini sangat istimewa, khususnya buat kaum hawa, Allah menghapuskan larangan makan bersama dengan perempuan yang haid (menstruasi). Oleh karena itu, perempuan sudah seharusnya bersyukur atas kelahiran Nabi Muhammad ﷺ.

Perempuan dari umat terdahulu ketika datang masa haid harus diasingkan di satu tempat dan tidak boleh berkumpul bersama orang lain. Bukan hanya dilarang tidur bersama, bahkan makan pun tidak boleh bersama perempuan yang sedang haid.

Bukan hanya bersama dengan suami, mereka juga dilarang berkumpul bersama keluarga, ayah, ibu, kakak dan adik. Seolah-olah wanita yang sedang datang bulan tersebut sedang menderita satu penyakit menular sehingga harus dijauhkan dari orang lain. Beginilah syariat umat terdahulu.

Barangkali seandainya syariat larangan makan bersama dengan wanita haid ini masih berlaku pada umat sekarang, tentu wanita berhaid akan diisolir dalam rumah atau gudang khusus yang jauh dari masyarakat ramai.

Bayangkan jika wanita tiap bulan datang bulan (haid), terjadi sepanjang tahun, yakni 12 bulan, maka selama itu pula lah perempuan berhaid dijauhkan dari keramaian. Begitulah hina perempuan berhaid sebelum datangnya Nabi Muhammad ﷺ.

Nah, ketika Rasulullah ﷺ datang dengan syariatnya, maka hal di atas tadi pun tidak berlaku lagi. Dalam ajaran Islam semua wanita berhaid boleh melakukan apapun dan dengan siapa pun yang dia mau, kecuali menikah. Sebagaimana disebutkan dalam satu hadis Rasulullah ﷺ:

اصنعوا كل شيء إلا النكاح

Artinya: ... Perbuatlah sesukamu, kecuali menikah

Dalam hadis tersebut Nabi menyebutkan bahwa yang dilarang bagi perempuan dalam dalam masa haid adalah ‘nikah’. Namun, jangan salah dulu, maksud nikah di sini adalah berhubungan suami istri. Artinya satu-satunya yang dilarang bagi perempuan berhaid ialah berhubungan badan dengan suami.

Hanya satu hal tersebut yang dilarang, selainnya semuanya boleh, seperti berkumpul makan bersama, duduk mengobrol dan bercanda dengan orang lain.

Oleh karena itu, perempuan sangat patut bersyukur dan jangan merasa lelah dalam mengagungkan dan mengistimewakan Nabi Muhammad ﷺ, seperti pada perayaan maulid dan sebagainya. Karena menjadi mulianya perempuan sebab dengan datangnya Rasulullah ﷺ, yaitu ajaran Islam.

3. Dicabutnya hukum Qishas yang tidak disengaja

Dalam Syariat Nabi Muhammad ﷺ hanya pembunuhan secara sengaja yang dilakukan qishah, sedangkan yang tidak sengaja diganti dengan diat.

Bagi yang belum tahu, maksud qishah adalah bentuk kejahatan diganti dengan kejahatan yang sama atau dalam bahasa lain disebut 'darah dibayar darah'. Bila terjadi pembunuhan, maka keluarga korban melakukan pembunuhan kembali terhadap pelaku, dan sebagainya.

Sedangkan diat adalah bayar denda terhadap satu kejahatan, seperti membayar diat pembunuhan yang tidak disengaja.

Dalam fiqh disebutkan syarat wajib qishas adalah pembunuhan yang sengaja, dilakukan secara zalim, serta pembunuh dan yang terbunuh memiliki kesetaraan. Maksudnya, pembunuh dan korban bukan  dari golongan budak, yaitu setara dalam segi kemerdekaan. Itulah syarat qishah, bila tidak mencukupi beberapa syarat di atas, maka tidak boleh dilakukan qishas dan beralih dengan membayar diat. 

Hal ini berbeda dengan umat terdahulu, mereka bila melakukan jinayat (seperti pembunuhan, dll) terhadap orang lain, baik disengaja atau tidak wajib diqishah kembali. Umat sebelum Islam dalam menegakkan keadilan pada pembunuhan baik sengaja maupun tidak, setara atau tidak, tetap dilakukan qishah, yaitu dengan dibunuh kembali si pembunuh korban.

4. Dihapusnya ajaran hukuman mati sebagai bentuk taubat

Salah satu keistimewaan Umat Nabi Muhammad ﷺ adalah dihapusnya ajaran hukuman mati sebagai bentuk taubat hamba. Umat sebelum Islam, ketika melakukan kesalahan dosa, maka jalan taubat satu-satunya ialah dengan hukuman mati.

Allah Subhanahu Wata'ala mengisahkan dalam Al-Qur’an terhadap Kaum Bani Israil yang menyembah anak lembu yang dibuat oleh Musa Samiri, yaitu:

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوبُوا إِلَىٰ بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ عِنْدَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Artinya: Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang". (QS. Al-Baqarah: 54)

Berdasarkan ayat di atas, bahwa Jalan taubat Bani Israil kala itu ialah melalui mati,. Jika hendak bertaubat satu-satunya jalan adalah dengan dibunuh. Bila tidak mampu membunuh diri sendiri, maka menyuruh kepada orang yang tidak berdosa untuk membunuhnya. 

Disebutkan dalam tafsir manakala Allah Subhanahu Wata'ala memerintahkan ‘bunuh’ pada ayat di atas, banyak dari kalangan Bani Israil yang tidak berani membunuh diri mereka sendiri, bahkan keluarga yang tidak berdosa juga tidak berani membunuhnya.

Kemudian Allah turunkan awan hitam, gelap gulita di sekeliling mereka, hingga mereka pun saling membunuh dalam kegelapan tersebut untuk menebus dosa. Begitulah cara Allah menerima taubat umat terdahulu.

Namun, kemuliaan umat Nabi Muhammad ﷺ, Allah menerima taubat cukup dengan 3 syarat saja, yaitu menyesal, bercita-cita untuk tidak mengulangi kesalahan tersebut, serta meminta maaf bila ada kesalahan yang terkait dengan orang lain. Begitu luar biasa Allah Subhanahu Wata'ala memberikan kemudahan kepada umat Nabi Muhammad ﷺ.

5. Disembunyikan aib dosa dari orang lain

Keistimewaan kelima dari Umat Nabi Muhammad ﷺ yaitu seberapa banyak dosa yang hamba lakukan, Allah akan menutupi aib dosa kita. Allah memberikan kesempatan para hambanya yang berdosa untuk bertaubat. Dalam satu hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:

كل أمتي معافا إلا مجاهرين

Artinya: Setiap umatku akan diberikan kemaafan kecuali orang-orang yang melakukan dosa secara terang-terangan.

Berdasarkan hadis ini, terpahami bahwa selama dosa yang dikerjakan buka dosa yang “mujaharah” (dosa secara terang-terangan), maka potensi untuk mendapat keampunan masih besar.

Tidak hanya itu, bahkan Allah Ta'ala mengharamkan kepada hamba untuk membongkar keaiban hambanya yang lain. Di samping menyembunyikan dosa hamba, Allah Ta’ala juga mengharamkan mengumbar dosa orang lain. Allah pula menyembunyikan rahasia setiap hambanya dengan sifat  “ستار العيوب وغفار للذنوب”, yaitu Allah Ta’ala yang Maha Menutup Aib Hamba dan mengampuni dosa.

Sehingga Allah Ta'ala mengecam siapa saja yang membocorkan rahasia hamba melalui, dalam satu hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:

من عير أخاه بذنب قد تاب لا يموت حتى يعمله

Artinya: Barang siapa yang memalukan saudaranya yang kadang-kadang ia telah bertaubat dari dosanya, maka ia tidak akan mati sebelum mengerjakan dosa yang sama.

Padahal untuk umat terdahulu Allah sendiri lah yang membongkar aib mereka. Apapun bentuk dosa yang dilakukan waktu malam hari maka paginya akan tertulis jenis dosanya di pintu rumah. Misalnya apabila malam mencuri, maka paginya di pintu rumahnya akan tertulis ia telah mencuri.

Begitu juga dengan bentuk dosa-dosa atau kejahatan lain, semuanya akan tertulis di pintu rumahnya atas perbuatan dosa tersebut dan tidak bisa disembunyikan. Terkait dengan tertulis dosa pada 'pintu rumah' tersebut, tertera keterangannya dalam kitab tafsir.

Dari karena itu, pada beberapa fenomena yang terjadi di masyarakat bahwa orang-orang yang telah melakukan perbuatan dosa, ternyata sebagai bentuk balasan bahwa ia pernah membocorkan dosa orang lain dulunya. Hal ini memang ancaman dari dari syara’ dan kecaman dari Allah Ta'ala.

Oleh karena itu, berhati-hatilah, Allah sendiri menyembunyikan aib hamba, maka kita boleh dengan begitu mudahnya membocorkan dosa/aib orang lain, bahkan haram hukumnya si pelaku dosa untuk membeberkan dosanya kepada orang lain. Bagitu yang disebutkan dalam banyak kitab-kitab salafusshalih.

Begitulah perbedaan Umat Nabi Muhammad ﷺ dengan umat dahulu tentang dosa. Di mana bila umat nabi terdahulu melakukan dosa, maka Allah secara langsung akan membocorkannya dengan tertulis di pintu rumah. Sedangkan umat Nabi Muhammad bila melakukan dosa, Allah akan menyembunyikan dosa tersebut dan tidak akan dibongkar sebagai bentuk keistimewaan Umat Nabi Muhamad ﷺ. 

Nah, itu dia 5 Keistimewaan Menjadi Umat Nabi Muhammad ﷺ dibandingkan dengan umat yang lain. Untuk sisanya sebanyak 8 keistimewaan lagi akan kami lanjutkan pada postingan 8 Kelebihan Umat Nabi Muhammad ﷺ dari Umat Lain. Semoga bermanfaat (abi zahrul mudi)

Posting Komentar untuk "5 Keistimewaan Menjadi Umat Nabi Muhammad SAW"