Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bukti-Bukti tentang Keimanan Abu Thalib - Bagian 2

bukti-bukti tentang keimanan abu thalib

Bukti-Bukti tentang Keimanan Abu Thalib - Para ulama dari kalangan Ahlussunnah Waljama'ah telah menggolongkan Abu Thalib sebagai seorang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, hanya saja beliau tidak mengucapkan kalimat syahadat dengan lisan.

Dengan begitu, ada banyak dalil atau bukti yang mengarah pada pembenaran bahwa Abu Thalib adalah orang beriman. Misalnya sejarah menuliskan bahwa Abu Thalib mengasuh dan memelihara Nabi Saw yang masih sangat belia.

Meneruskan tulisan sebelumnya tentang Bukti-Bukti Keimanan Abu Thalib Bagian 1, maka di sini kami akan menyebutkan beberapa Bukti-Bukti Keimanan Abu Thalib yang belum disebutkan pada pada artikel sebelumnya.

Abu Thalib meriwayatkan hadis-hadis dari Rasulullah Saw 

Abu Thalib meriwayatkan hadis-hadis dari Rasulullah Saw dan ungkapan-ungkapan yang  menunjukkan keimanan dan tauhid yang memenuhi hatinya.

Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh Al-Khathib Al-Baghdadi dengan sanadnya yang bersambung kepada Ja'far Ash-Shadiq dari ayahnya, Muhammad Al-Baqir, dari ayahnya, Ali Zainal Abidin, dari ayahnya, Al-Husain, dari ayahnya, Ali bin Abu Thalib berkata:

سمعت أبا طالب يقول: حدثني محمد ابن أخي وكان والله صادقا، قلت له بم بعثت يا محمد؟ قال بصلة الأرحام وإقامة الصلاة وإتيان الزكاة. (أورده الحافظ ابن حجر فى الإصابة 7\243)

Saya pernah mendengar Abu Thalib berkata: ‘Muhammad anak saudaraku bercerita kepadaku dan dia, demi Allah, adalah orang yang sangat dipercaya.’ Kemudian, Abu Thalib bertanya kepadanya, ‘Dengan cara apa kamu diutus menjadi nabi, wahai Muhammad?’. Ia menjawab, ‘Aku diutus menjadi nabi dengan menyambung silaturrahim, mendirikan shalat dan menunaikan zakat’.” (Disebutkan al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Kitab al-Ishabah 7/243)

Al-Khathib juga meriwayatkan dengan sanadnya yang bersambung kepada Abu Rafi' Maul Ummu Hani binti Abi Thalil bahwa ia mendengar Abu Thalib berkata:

حدثني محمد ابن أخي أن الله أمره بصلة الأرحام وأن يعبد الله لا يعبد معه أحدا، قال: ومحمد عندي الصدوق الأمين. (أورده الحافظ ابن حجر فى الإصابة 7\243)

Muhammad, anak saudaraku, telah bercerita kepadaku bahwa Allah Swt telah  memerintahkannya untuk menyambung silaturahim dan agar dia menyembah Allah, tidak menyembah siapa pun bersama-Nya.”

Kemudian, Abu Thalib berkata, “Dan Muhammad, menurutku, adalah seorang yang sangat dipercaya dan jujur.” (Disebutkan al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Kitab al-Ishabah 7/243)

Abu Thalib juga berkata:

سمعت ابن أخي يقول: اشكر ترزق ولا تكفر تعذب

“Aku mendengar anak saudaraku bersabda: ‘Bersyukurlah (kepada Allah), niscaya kamu diberi rezeki, dan janganlah kufur (kepada-Nya) karena jika kufur-kamu akan disiksa’.”

Ibnu Sa'ad, Al-Khathib, dan Ibn Asakir meriwayatkan dari Amr bin Sa'id bahwa Abu Thalib berkata: 

كنت بذي المجاز مع ابن أخي فأدركني العطش فشكوت إليه ولا ‘نده شيئا ، قال: فثني وركه ثم نزل فأهوى بعقبه إلى الأرض فإذا بالماء، فقال: اشرب يا عم، فشربته. (رواه ابن سعد في الطبقات 1/153)

Aku pernah berada di Dzul Majaz bersama anak saudaraku, Muhammad Saw. Ketika itu, aku merasa haus, lalu aku mengadukan hal itu kepadanya. Aku tidak melihat sedikit pun air padanya. Lalu, ia memukulkan tumitnya ke tanah. Tiba-tiba, air memancar dari tanah itu. Ia pun berkata kepadaku, ‘Minumlah, wahai paman!’, Akupun minum dari air itu.” (HR. Ibnu Sa’ad dalam Kitab Thabaqat 1/153)

Riwayat menunjukkan Abu Thalib adalah orang mengesakan Allah, sehingga Allah memberinya minum yang muncul dari mukjizat Nabi Muhammad Saw. Air tersebut lebih utama daripada air dari telaga Kautsar dan air zam-zam.

Oleh karena itu, orang yang melihat mukjizat seperti itu, bagaimana mungkin tidak timbul keyakinan dalam hatinya?

Dengan tidak memperlihatkan Islam, Abu Thalib bisa terus melindungi Rasulullah Saw

Seseorang bertanya kepada Abu Thalib, “Mengapa kamu tidak beriman kepadanya?”. Abu Thalib menjawab, “Itu merupakan cacat dan cela.”

Sebenarnya, Abu Thalib mengatakan demikian semata-mata untuk menyembunyikan keimanannya dan menampakkan kepada kaum Quraisy seakan-akan ia masih menganut agama mereka.

Dengan demikian, ia dapat menolong dan melindungi Muhammad Saw. Alasannya tentu jelas, yaitu dengan mengira bahwa Abu Thalib masih menganut agama kaum Quraisy itu, mereka pun dapat menerima jaminan perlindungannya terhadap Muhammad Saw. 

Keadaannya akan lain jika Abu Thalib menampakkan penentangannya kepada mereka-dengan menampakkan keimanannya dan mengikuti Muhammad Saw.

Itulah alasannya, mengapa Abu Thalib berkata, “Itu merupakan cacat dan cela.” Sementara itu, ia menampakkan diri seakan-akan mengikuti agama mereka untuk melindungi Rasulullah Saw.

Lantas, apakah hal seperti itu bisa disebut dengan keimanan? Jawabannya adalah tentu itu adalah keimanan. 

Dalam kitab Asna al-Mathalib fi Najat Abi Thalib disebutkan, seseorang yang tidak mingikrarkan iman (syahadat) karena satu keuzuran tetap dianggap mukmin di akhirat, walaupun ia terhitung bermaksiat karena tidak mengucapkan syahadat sebagai syarat berlaku hukum duniawi.

Di antara penyebab keuzuran untuk menyembunyikan Islam yang diakui adalah takut jika terjadi kezaliman bila memperlihatkan Islam, atau jika ia memperlihatkan Islam maka dirinya akan dibunuh, atau disakiti.

Begitu pula termasuk uzur bila ia memperlihatkan Islam, maka anaknya akan disakiti, atau keluarganya. Maka Syeikh Ahmad bin Zaini Dahlan menyebutkan dengan keuzuran-uzuran seperti ini dibenarkan untuk menyembunyikan keimanan.

Para Ulama telah sepakat bahwa keuzuran seperti ini yang menimpa abu Thalib, sehingga ia tidak menampakkan keimanan dengan Ikrar, tetapi dalam perbuatan serta di dalam hatinya penuh dengan dengan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya, Muhammad Saw.

Abu Thalib sering melihat tanda-tanda kenabian secara nyata

Di antara tanda-tanda kenabian Muhammad Saw adalah apa yang disaksikan oleh Abu Thalib ketika Abdul Mutthalib masih hidup. Abdul Muththalib memohon kepada Allah agar diturunkan hujan dengan perantaraan Nabi Muhammad Saw.

Al-Khithabi meriwayatkan bahwa pada waktu itu, kaum Quraisy mengalami masa paceklik. Kemudian, Abdul Mutthalib dan orang-orang Quraisy yang hadir bersamanya menaiki puncak bukit Abu Qubais setelah mencium sudut Baitullah (Ka’bah) terlebih dahulu.

Abdul Mutthalib berdiri sambil meminta pertolongan dengan perantaraan Muhammad Saw. Abdul Muththalib mengangkat Muhammad Saw di atas pundaknya, dan  ketika itu, beliau masih kanak-kanak.

Abdul Mutthalib berdoa kepada Allah Swt agar menurunkan hujan. Masyaallah, pada saat itu juga, hujan langsung turun.

Riwayat-riwayat yang telah disebutkan di atas menegaskan bahwa Abu Thalib telah melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, mukjizat, dan perkara-perkara luar biasa yang muncul pada diri Nabi Muhammad Saw.

Sehingga dapat disimpulkan, bahwa semua hal tersebut mengharuskannya untuk membenarkan dan mengimani Muhammad Saw dengan keimanan yang tidak ada keraguan lagi, Wallahua’alam. Semoga bermanfaat (asna al-mathalib fi najati abi thalib)

Posting Komentar untuk "Bukti-Bukti tentang Keimanan Abu Thalib - Bagian 2"